Langsung ke konten utama

Postingan

Unggulan

Bapak, Apa Kabar?

Hari ini, tiba-tiba saja aku ingin menulis.   Bukan karena ada yang istimewa—justru sebaliknya.   Mungkin karena hatiku sedang berat, dan kenangan tentangmu datang tanpa permisi.   Atau mungkin karena perutku kenyang, dan aku teringat pada hari-hari di mana aku bahkan tak tahu kapan bisa makan lagi. Masih kuingat samar, suatu kali, aku memungut buah jatuh di jalan.   Bukan karena aku rakus, tapi karena aku lapar.   Karena Bapak pergi begitu saja, meninggalkan kami tanpa apa-apa.   Tanpa pesan, tanpa sisa, tanpa pelukan. Bapak tak pernah benar-benar memelukku.   Selama (mungkin) tujuh tahun aku tinggal pindah bersamamu—dari usia lima sampai dua belas—rasanya seperti tinggal bersama bayang-bayang.   Ada tubuhmu, tapi tidak ada hatimu.   Ada suara, tapi tidak ada panggilan yang memeluk namaku. Sejak Bapak meninggalkanku tahun 2015, aku tumbuh tanpa arah.   Pernah aku nyaris menyerah, nyaris ...

Postingan Terbaru

Pentigraf: Menyerah Juga Pilihan

Puisi: Nama yang Terukir

Cermin: Aku Pencipta-"Mu"

Puisi: Di Balik Nyanyian Alam dan Pedang

Pentigraf: Bayangan Harapan

PERTIMBANGAN ETIS DAN DEMOKRATIS DALAM PENUNJUKAN ANGGOTA TNI/POLRI SEBAGAI PENJABAT KEPALA DAERAH