Bapak, Apa Kabar?
Hari ini, tiba-tiba saja aku ingin menulis.
Bukan karena ada yang istimewa—justru sebaliknya.
Mungkin karena hatiku sedang berat, dan kenangan tentangmu datang tanpa permisi.
Atau mungkin karena perutku kenyang, dan aku teringat pada hari-hari di mana aku bahkan tak tahu kapan bisa makan lagi.
Masih kuingat samar, suatu kali, aku memungut buah jatuh di jalan.
Bukan karena aku rakus, tapi karena aku lapar.
Karena Bapak pergi begitu saja, meninggalkan kami tanpa apa-apa.
Tanpa pesan, tanpa sisa, tanpa pelukan.
Bapak tak pernah benar-benar memelukku.
Selama (mungkin) tujuh tahun aku tinggal pindah bersamamu—dari usia lima sampai dua belas—rasanya seperti tinggal bersama bayang-bayang.
Ada tubuhmu, tapi tidak ada hatimu.
Ada suara, tapi tidak ada panggilan yang memeluk namaku.
Sejak Bapak meninggalkanku tahun 2015, aku tumbuh tanpa arah.
Pernah aku nyaris menyerah, nyaris memilih diam di tengah jalan dan membiarkan dunia berjalan tanpaku.
Kupikir, untuk apa sekolah? Untuk apa bermimpi, kalau pundakku tak pernah Bapak genggam saat gemetar?
Tapi aku suka belajar jadi ku putuskan untuk terus berjalan. Aku jatuh cinta pada ilmu pengetahuan.
Dan tahukah Bapak?
Aku yang dulu hanya 148 cm saat terakhir Bapak lihat, kini telah berdiri di atas tinggi 162 cm.
Ada begitu banyak yang berubah dariku, tapi satu yang tak pernah benar-benar pudar: rasa rindu padamu.
Rindu yang tak mengemis kembalinya dirimu, hanya ingin tahu—Bapak baik-baik saja, kan?
Kadang aku bertanya-tanya, Bapak—apa Bapak juga merindukanku, seperti sesekali aku merindukanmu?
Bahkan untuk sekadar mengingat suaramu pun aku mulai kesulitan, wajahmu pun perlahan kabur dari ingatanku.
Aku tak lagi menyimpan marah, meski pernah ada.
Kini aku hanya menyisakan doa.
Semoga di semesta yang lain, Bapak bukan Bapak yang menghilang.
Semoga di sana aku adalah anak yang Bapak banggakan, yang Bapak jaga dengan sepenuh jiwa.
Semoga di dunia yang lebih hangat dari ini, kita bisa saling genggam dan tak pernah saling hilang.
Komentar
Posting Komentar