CERMIN(Cerita Mini): Cinta Terlarang

 CINTA TERLARANG

Magnolia Putih


Sudut bibirmu terangkat, senyum manismu mengembang, matamu yang berbinar menatap sayang pada orang yang baru saja resmi berijab qabul bersamamu. Hatiku rasanya retak dan meronta, mataku memerah seolah jika tak kutahan pastilah air mataku merekah. Walau langkahku berat kuhampiri kalian di pelaminan dengan senyum terbaik walau hatiku teriris.

"Wah, selamat ya atas pernikahannya" Aku tertawa hambar, dan perasaanku makin terluka ketika lengannya mengapit lenganmu.

"Makasih Rangga, kapan nyusul?" Kamu berkelakar, matamu melengkung membentuk bulan sabit.

"Nggak kerasa ya, kita jadi sahabat dari SMA dan sampai sekarang" Pasanganmu, ikut menimpali, aku hanya bisa dengan senyum kecut tak berminat.

"Ya, kalau sudah ada yang cocok" Jawabku sekenanya, kalian menanggapi gurauanku dengan tawa renyah, serenyah suara retakan hatiku.

"Ah, manisnya" Aku membatin ketika melihat tawa bahagiamu.

Aku menengok kebelakang dan melihat antrian panjang menunggu kesempatan untuk berjumpa sang raja dan ratu semalam, tak enak hati aku pun pamit undur diri. Sebelum aku turun dari pelaminan sekali lagi kutolehkan kepalaku ke wajahmu melihat senyummu untuk kurekam sepanjang hidupku.

Aku berjalan menuju pojok ruangan, duduk di sudut dengan tisu di genggaman, walau aku seorang laki-laki tapi tetap saja kalah dengan hati, logikaku seolah memaki, kenapa harus menangis untuk sesuatu yang tak berarti? Ini bukan cinta suci tapi cinta terlarang. Pikiranku di lempar ke masa lalu dimana kita bertiga hanyalah teman tanpa keterikatan, aku bebas memandang wajahmu tanpa takut orang lain akan menangkap basah diriku. Aku bisa berjalan di sisimu tanpa takut terluka. 

Kurogoh saku jasku, melihat foto kebersamaan kita bertiga, aku, kamu dan dia. Kamu saat itu terlihat bahagia dengan senyum begitu indahnya, pemandangan yang begitu cantik andaikan tidak ada dia diantara kita. Entah mengapa hatiku memanas, ku robek menjadi dua foto itu. Aku menggabungkan kedua sisi foto yang tebelah sehingga kita seolah mendekat, tak memiliki jarak. Aku tersenyum simpul, aku mendongak dan nampak lagi senyummu yang tak berubah masih sama seperti dulu, sayangnya aku tak dalam satu frame dengan senyum manismu dan aku bukan lagi penyebab tawamu.

"Huft..." Aku menghela nafas berat mencoba meredakan nyeri yang tiba-tiba menyengat di hati.

"Aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Mencintaimu adalah tanpa ambisi untuk memiliki karena aku bukan bahagiamu" Hiburku pada diriku sendiri.

Kembali aku mengusap foto kita, ujung foto itu mulai mengabus karena terlalu sering tergesek ujung jemariku yang selalu merindu. Aku tertawa hambar, aku merelakan karena aku tahu ini adalah cinta terlarang, harusnya perasaan ini tak boleh mekar. Tapi dengan rela aku memupuk perasaan yang membawaku menginjak jalan berduri dengan penuh luka. Andaikan aku mengungkapkan rasa pastilah kau juga akan menolak dan memandang rendah aku yang hina. Jadi kusimpan luka dalam lara yang penuh duka.

"Andaikan kamu bukan temanku" 

"Andaikan aku adalah perempuan pastilah rasa ini tak akan sesakit ini" Takdir yang selalu aku sesali tapi tak bisa berubah dengan cara apapun adalah bahwa aku adalah seorang laki-laki dan kau pun sama.

Karena aku mencintaimu, dan karena ini adalah cinta terlarang, biarlah kusimpan dalam lautan kenangan di pojok harapan.

Sampit, 05 Mei 2020


Komentar