Esai: Musik Hip-Hop Untuk Konseling Pencegahan HIV/AIDS Kelompok Kecil dengan Remaja

Penanggulangan HIV/AIDS akan terus dilakukan dan tidak akan mungkin berhasil apabila penanggulangan program ini tidak didukung oleh unsur terkait lainnya di masyarakat seperti LSM tokoh masyarakat maupun tokoh agama lainnya dukungan ini juga bisa datang dari para pemusik dengan kemampuan menghibur sekaligus menyampaikan informasi dan penyadaran tentang penyakit HIV AIDS. Penderita HIV/AIDS Yogyakarta sendiri menurut program pengolahan komisi penanggulangan AIDS DIY ada 60% penderita HIV di Jogja itu didominasi oleh usia produktif. Di mana hingga per Agustus tahun 2021 ada 5 000 penderita HIV AIDS di mana 5.627 nya oleh penderita HIV sedangkan 1800 di antaranya dalam fase AIDS. Dengan perkiraan usia yang demikian maka musik hip hop yang merupakan suatu rumus jenis musik yang banyak disukai dan diganti oleh anak muda bisa menjadi media sosialisasi bagi masyarakat. Sosialisasi yang dilakukan khusus di kalangan generasi muda karena mereka merupakan kelompok rentan terhadap penyebaran penyakit HIV AIDS dengan adanya sosialisasi melalui musik dapat diharapkan bahwa remaja dapat memahami dan memunculkan kesadaran hingga akhirnya dapat terhindar dari penyakit mematikan tersebut.

Saat ini, sedikit perhatian telah diarahkan, kecuali upaya pendidikan sebaya, untuk secara konstruktif mengembangkan cara-cara baru dan inovatif untuk mempromosikan pencegahan primer HIV/AIDS di kalangan remaja dan dewasa muda Yogyakarta. Dengan pemikiran ini , tujuan dari upaya konseptual ini adalah untuk menyajikan protokol konseling pencegahan HIV / AIDS yang dikembangkan untuk digunakan dengan orang dewasa muda Yogyakarta yang memanfaatkan musik hip - hop. Hal ini juga dilatar belakangi bahwa penggemar K-Pop makin marak dan berkembang. K-pop, adalah genre musik populer yang berasal dari Korea Selatan. Lagu-lagu K-pop mengandung banyak pengaruh musik, seperti hip-hop , tarian elektronik, jazz, dan rock, yang dibawakan oleh grup yang menampilkan empat hingga 21 anggota. Mengapa tidak menggunakan musik K-Pop saja? Karena fakta bahwa terdapat stigma negatif terhadap artis K-Pop seperti dicap flamboyan, kemayu, dan sebagainya maka untuk mengurangi dampak penolakan Hip hop dapat menjadi alternatif lain. Mengingat K-Popers banyak yang menyukai apabila idola mereka mengeluarkan album hip-hop karena dianggap "jantan" dan juga penuh semangat.

Penulis berpendapat bahwa peningkatan pemahaman tentang hubungan yang dimiliki banyak orang dewasa muda dengan musik hip-hop dapat digunakan oleh personel pencegahan penyakit untuk mendidik populasi ini tentang faktor pelindung HIV.  

Komentar

Postingan Populer