ESAI: Labelisasi dan Stigmatisasi Virus HIV Vs COVID-19

Manusia merupakan makhluk holistik apabila dia mampu memenuhi berbagai kebutuhannya baik secara fisik psikologis maupun spiritual namun kebanyakan manusia hanya memfokuskan pemenuhan kebutuhannya terhadap fisik saja contohnya banyak orang yang menganggap remeh perihal kesehatan mental padahal antara kesehatan mental dan juga kesehatan fisik memiliki derajat setara yang kepentingannya baik kelanjutan hidup seseorang itu sangatlah vital. 

Ketika ada seseorang yang memiliki kekurangan atau hal-hal yang dianggap tidak lazim di tengah masyarakat maka akan timbul stigma dari pikiran dan pandangan negatif terhadap suatu hal yang dianggap telah menyalahi norma masyarakat ataupun tidak sesuai dengan nilai-nilai kehidupan. Stigma ini tentu identik dengan orang-orang yang dianggap tidak normal padahal menjadi berbeda bukanlah suatu hal yang perlu dipermasalahkan karena sejatinya manusia memang telah berbeda-beda dan karena perbedaan itulah kehidupan menjadi lebih indah tapi tidak dengan beberapa orang dengan pikiran konservatif dan selalu menganggap dirinya menjadi makhluk terbaik. Enggak kemudian adanya stigma yang menemukan diskriminasi dianggap hal lazim dan suatu hal yang normal apabila ada suatu hal yang tidak sesuai dengan nilai-nilai masyarakat padahal dalam konstitusi telah dijamin bahwa setiap orang harus bebas dari keadaan diskriminasi dengan alasan apapun hal tersebut tercantum dengan jelas pada pasal 28 I ayat (2) dalam implementasi dan praktiknya diskriminasi dan juga stigmatisasi itu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat hal ini kemudian menimbulkan marginalisasi dan juga subordinasi bagi kelompok-kelompok tertentu yang mengakibatkan mereka merasa dikucilkan merasa disisihkan hingga akhirnya melukai hati mereka yang dapat berakibat pada depresi.

Dan faktanya fenomena seperti ini kerap kali diidentikkan dengan hal-hal terkait dengan kesehatan ataupun isu-isu sosial contohnya seperti penderita HIV AIDS yang kerap kali diidentikkan sebagai sebuah penyakit karma atau kutukan bagi beberapa orang hal ini kemudian juga diterapkan bagi mereka yang terkena covid 19 sebagai virus yang tengah berkembang di seluruh dunia saat ini.

Perihal HIV/AIDS, stigma kepada mereka para ODHA ini mudah sekali ditemukan contoh saja kita bisa melihat eksperimen-esperimen sosial di mana orang-orang memasangkan label dirinya sendiri bahwa saya adalah penderita AIDS tolong peluk saya di dalam video-video tersebut kita akan melihat bahwa banyak orang yang masih enggan untuk memeluk mereka bahkan enggak untuk berdekatan maupun bersosialisasi. Mereka tidak mau berjabat tangan, tidak mau menggunakan toilet yang sama, bahkan jika terdapat ODHA di dalam keluarga mereka mereka takut untuk makan di satu tempat yang sama atau tidur bersama dengan mereka, bahkan di dalam kasus-kasus tertentu mereka dianggap sebagai monster yang mengerikan. Keluarga mereka bahkan tidak untuk memberikan mereka perawatan seperti menyiapkan makan atau membersihkan peralatan makan mereka.

Padahal berjabat tangan tidur di tempat yang sama makan di tempat yang sama atau berpelukan itu tidak menyebabkan penularan HIV, efek tidak semudah itu bundaran HIV itu berada di dalam darah, cairan kelamin dan juga ASI metode penularannya pun dengan berhubungan seks secara bebas, penggunaan jarum suntik yang bergantian, menyusui, atau transfusi darah non PMI. Selain itu maka berinteraksi dengan para odha tidak akan menyebabkan penularan dan berinteraksi dengan mereka justru malah membantu mereka untuk bangkit memberikan mereka semangat agar mereka dapat melewati krisis dalam hidup mereka. 

Selain itu bahkan pada tahun 1980-an seorang pejabat tinggi pernah mengatakan bahwa HIV AIDS merupakan penyakit homoseksual sehingga kita sebagai umat beragama sebaiknya sebuah masyarakat dari negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai ketuhanan harus taat beragama dan tidak ikut-ikutan menjadi homoseksual agar terhindar dari HIV sebuah pernyataan yang lucu ketika kita melihat bahwa laporan Kemenkes menunjukkan 60% dari kasus HIV itu menular melalui hubungan heteroseksual pada kenyataannya penurunan HIV AIDS tidak selalu berkaitan dengan hal-hal yang berkaitan dengan moral atau bahkan di stigmatisasi dengan agama penurunan HIV dapat melalui hubungan seksual itu bisa terjadi dalam pernikahan maupun di luar nikah.

Hal ini kemudian sama dengan kasus  COVID di mana banyak tenaga kesehatan yang ditolak pulang ke rumah atau kediamannya karena dianggap telah membawa virus dari rumah sakit ke rumah hal tersebut juga terjadi pada pasien OFP atau PDP yang kemudian diasingkan dari lingkungannya bahkan jenazah pasien COVID-19 ditolak untuk dikuburkan walaupun telah dinyatakan oleh dokter Umi syartiyah direktur utama RSI Jakarta Sukapura bahwa jenazah itu tidak berbahaya virus yang membunuh jasad tidak lagi menyebar dan luar ke manusia tapi nyatanya pengetahuan-pengetahuan kecil seperti bawa virus harus memerlukan inang untuk tumbuh dan hidup agaknya diabaikan oleh masyarakat mereka lebih mementingkan ego.

Pada akhirnya membicarakan tentang stigmatisasi membicarakan tentang masyarakat membicarakan tentang bagaimana perspektif mereka terhadap penderita HIV atau COVID tidaklah semudah untuk memberikan telapak tangan oleh karenanya daripada kita membingungkan atau merasa takut dengan hal-hal tersebut kita lebih baik berkontribusi secara sosial yaitu dengan membangun rasa percaya pada layanan dan sarana kesehatan, kemudian menunjukkan empati terhadap mereka yang terdampak, dan memahami wabah itu sendiri,  mari kita melakukan upaya yang praktis dan efektif sehingga orang-orang menjaga keselamatan diri dan orang-orang terdekatnya. Jika kita mau berkomitmen untuk menghentikan stigma maka tidak mustahil bahwa hikmah itu akan berhenti di lingkungan sekitar kita berdampak bukan berarti kita harus menyebarkan itu kepada jutaan orang namun berdampak dapat berarti bahwa orang-orang di sekitar kita memahami dan mengerti tak perlu memberikan pengaruh bagi satu juta orang jika ada 10 orang yang terpengaruh oleh pemikiran kita maka 10 orang tersebutlah yang akan bisa mengembangkan pemahaman ini menjadi 1.000, 10.000 dan seterusnya.

Komentar

Postingan Populer