PENTIGRAFl: Kematian di Pelupuk Mata

Pandangannya jatuh pada peti mati yang kini tertutup tanah merah. Setiap sekop tanah itu ikut menimbun harapan hidupnya. Mulutnya bisu dan  netranya terasa  sangat sakit karena terus mengucurkan air mata. Lidahnya terkunci, semua kata-kata tersedak di tenggorokan. Tubuhnya yang sudah ringkih ini semakin merosot ke tanah, seolah beban jutaan ton menimpa kepalanya.

Rasanya baru kemarin dia menggendong putranya, cintanya dan buah hatinya yang terkasih yang ia timang. Dari ratusan juta anak yang sehat kenapa harus putranya. Dan dari 4 juta anak terinfeksi HIV di dunia mengapa putranya. 

Dia pulang ke rumah dalam keadaan senyap, semua orang menjauhinya, suaminya meninggalkannya 2 tahun lalu, dan sekarang putranya pun menyusul. Mengapa bukan dirinya saja yang pergi untuk membayar dosa telah menularkan HIV kepada orang-orang terkasihnya. Mengapa dia dulu terlalu peduli pada stigma? Dia kira semua tidak akan sefatal ini. Dia hanya dapat meringkuk dan menangis, melihat kematian di pelupuk mata.



#HIV/AIDS

Komentar

Postingan Populer