ESAI: Kebijakan APBN Menghadapi Kenaikan Harga Komoditas Pangan dan Energi
(Kenaikan Suku Bunga diperlukan Untuk Mencegah Kenaikan Ekspektasi Harga dan Meningkatnya Arus Keluar Modal)
Pertumbuhan ekonomi global
dari hari kemarin semakin jatuh hal ini sama dengan pertumbuhan ekonomi di Asia
Pasifik yang semakin melambat sebagai dampak berkelanjutan dari invensi Rusia
ke Ukraina ditambah lagi pasca pandemi ekonomi Indonesia belum bangkit
sepenuhnya.
Pertumbuhan ekonomi di
Asia Pasifik semakin menurun daripada proyeksi awal. Pertumbuhan ekonomi Asia
Pasifik melambat 4,2% dan lebih lambat dari pertumbuhan 6,5% pada tahun 2021
dan bahkan IMF memperkirakan bahwa pada tahun 2023 akan turun menjadi 4,6%..
Hal tersebut maka banyak
resiko yang dapat terjadi oleh karenanya pengangkatan kondisi keuangan terkait
dengan kenaikan suku bunga sentral di Indonesia dan harga komoditas yang
melonjak karena perang Ukraina akhirnya memperparah limpahan pertumbuhan
regional dari perlambatan ekonomi di Cina. Tidak hanya Indonesia namun bahkan
kekuatan terbesar ekonomi di Asia Cina juga mengalami perlambatan signifikan
pada kuartil kedua karena kebijakan nonCovid yang akhirnya mendorong penguncian
untuk kota-kota besar dan pusat rantai pasokan, penguncian kota-kota tersebut
mempengaruhi pasokan komoditas.
Karena pengurangan pasokan
maka akan terjadi penurunan aktivitas akhirnya mencerminkan kemerosotan
berkepajangan dan semakin intensif di sektor real estate yang akan berdampak
pada mitra dagang regional seperti Jepang dan Korea. Apabila gangguan pasokan
tersebut tidak ditangani maka pertumbuhan ekonomi akan semakin lambat karena
permintaan eksternal yang lebih lemah dan terdapat gangguan dari rantai pasokan
dapat memperparah inflans.
Terlepas dari itu semua
tanda-tanda rebound dalam kegiatan ekonomi telah muncul karena pembatasan pada
mobilitas akibat pandemi telah dilonggarkan sehingga terdapat ketahanan
manufaktur dan juga rebound dalam pariwisata yang akhirnya mendukung
pertumbuhan ekonomi Indonesia namun kita juga tidak bisa lepas begitu saja dari
bayang-bayang kenaikan harga komoditas dan juga energi.
Sebagian besar ekonomi
negara berkembang di Asia telah mengalami arus keluar modern yang setara dengan
tahun 2013 oleh karena itu saat Federal Reserve mengumumkan akan mengurangi
pembelian obligasi yang akhirnya menyebabkan imbal hasil obligasi global meningkat tajam. Arus global terbesar
yakni ada di India sebesar 23 miliar US Dollar sejak invansi Rusia ke Ukraina
hal ini pula berdampak pada negara-negara maju di Asia seperti Korea dan
provinsi Taiwan di China yang akhirnya mendorong kenaikan suku bunga dan
ketegangan geopolitik. Pada kondisi seperti ini kebijakan perdagangan
Internasional semakin kabur sehingga menghambat investasi.
Sri Lanka adalah kasus
ekstrim di mana peningkatan hutang menjadi tidak berkelanjutan dan ekonomi
kehilangan akses ke pasar modal global sehingga menyebabkan gagal bayar pada
kewajiban eksternalnya. Selain itu, meningkatnya ketidakpastian kebijakan
perdagangan dan kertakar atau rantai pasokan akhirnya berkontribusi pada fragmentasi
ekonomi yang menunda pemulihan ekonomi dan memperburuk jaringan parut daripada pandemi
di Asia. Selama pertumbuhan ekonomi melemah, tekanan inflasi semakin meningkat
hal ini didorong oleh lonjakan dalam biaya pangan maupun energi akibat perang
dan sanksi yang akhirnya semakin menekan kaum miskin dan rentan sehingga yang
menjadi fokus utamanya adalah bagaimana menjaga rumah tangga miskin dan rentan
untuk paling tidak mampu mengatasi mengurangi konsumsi dan memperkecil
kemungkinan kerusuhan sosial.
Untuk menghadapi hal
tersebut maka kebijakan fiskal perlu diperketat hal ini untuk melengkapi upaya
moneter yang mencoba untuk menekan angka inflasi di saat yang sama transfer
fiskal memiliki target utama untuk mendorong dan mendukung orang-orang rentan
terhadap guncangan baru terutama terkait dengan energi tinggi dan harga pangan
dukungan fiskal ini haruslah bersifat netral dari anggaran. Dan ditandai dengan
meningkatkan pendapatan baru atau reorientasi anggaran untuk menghindari
pertambahan utang.
Singkatnya Indonesia perlu
untuk menaikkan suku dengan cepat karena inflasi meluas ke harga inti yang
mengecualikan kategori makanan dan energi yang lebih mudah berubah untuk
mencegah spiral ekspektasi inflasi dan upah yang kemudian akan membutuhkan
kenaikan yang lebih besar untuk diatasi jika dibiarkan tidak terkendali pada
saat yang sama. Maka suku bunga lebih lanjut akan menekan anggaran untuk
konsumen perusahaan dan pemerintah yang menanggung utang besar selama pandemi.
Bank Sentral Indonesia
harus mulai mengurangi ukuran neraca dan bergerak lebih jauh menuju normalisasi
kebijakan karena harga yang stabil merupakan prasyarat penting bagi pertumbuhan
ekonomi yang berkelanjutan dengan adanya risiko besar pada prospek inflasi yang
cenderung terus meningkat maka BI harus terus melakukan normalisasi untuk
mencegah tekanan inflasi yang semakin berakar.
Memang benar bahwa
kebijakan moneter tidak akan serta merta dapat menyelesaikan kemacetan yang
terjadi di akibat pandemi yang tersisa dalam rantai pasukan global dan karena
adanya gangguan dalam pasar komoditas akibat perang yang terus berkobar di
Rusia dan Ukraina ditambah lagi dengan adanya gesekan antara Cina dan Amerika
semakin memperparah geopolitik dan geoekonomi di Asia. Namun dengan peningkatan
suku bunga maka, inflansi dapat ditekan dan pemerintah akan memiliki cukup
waktu untuk mempersipakna jaring pengaman sosial untuk masyarakat rentan dengan
“mengorbankan” masyarkaat menengah ke atas.
Komentar
Posting Komentar