ESAI: Mahasiswa dalam Kampanye Proaktif Penguatan Mental Masyarakat di Masa Pandemi COVID-19: Pelakon atau Penonton?


 Dari sejarah kita belajar bahwa konsekuensi dari penyakit menular sangat  luar biasa, konsekuensinya tidak hanya kerugian material namun juga mental.  Dunia dihebohkan dengan penyakit-penyakit menular baru yang muncul di abad  ke-20 ini, seperti Ebola, Severe Acute Respiratory System (SARS), Tuberkulosis,  dan terakhir COVID-19 yang sampai sekarang belum berakhir. Masyarakat  mengalami serangan panik ketika pertama kali kasus positif COVID-19  diumumkan di Indonesia, bahkan kepanikan itu tak kunjung mereda dan malah  bertambah seiring waktu. Keterkejutan masyarakat dunia tidak hanya pada  kecepatan penyebaran COVID-19 tapi juga terkait dengan banyaknya dampak  yang akibat wabah COVID-19 ini. Tidak hanya terbatas pada persoalan medis,  dunia dan segenap masyarakatnya harus ‘merasakan buah simalakama’ lantaran  wabah COVID-19 ini berpengaruh terhadap seluruh dimensi kehidupan  masyarakat dimulai dari persoalan kesehatan, ekonomi, hingga sosial budaya. 

Pandemi COVID-19 adalah krisis global yang tidak hanya kesehatan fisik  seseorang, tetapi juga kesehatan mentalnya. Begitu banyak kabar buruk yang  diterima, apa membuat orang-orang mengkhawatirkan diri sendiri, keluarga,  teman terdekat bahkan lingkungan di sekitar mereka. Faktor lain yang menjadi  penyebab kecemasan di masyarakat pada masa pandemi COVID-19 adalah stres  akibat isolasi sosial akibat adanya pembatasan-pembatasan yang dilakukan  Pemerintah dalam rangka menekan penyebaran COVID-19 menekan ruang gerak  masyarakat. Kecemasan berlebihan pada masa karantina dapat meningkatkan  risiko anxiety, depresi, hingga gejala stres pascatrauma. Salah satu penyebab  pikiran dan perasaan negatif itu muncuk tidak lain karena keputusasaan yang  timbul dari signifikansi krisis COVID-19.

Lalu apa peran mahasiswa dalam menangani hal ini? Apakah mahasiswa  hanya menjadi penonton? Apakah mahasiswa hanya berkutat dengan kesibukan  diri sendiri tanpa konstribusi? Apakah mahasiswa fokus menghabiskan marathon  drama sambil berbaring terkurung dalam petak kamarnya? Sangat disayangkan,  jika mahasiswa yang merupakan agen of change, guardian of value, moral force, dan social control menutup mata atas dampak yang ditimbulkan oleh pandemi ini.  Ada banyak hal yang dapat dibantu oleh peranan mahasiswa bertalian dengan  kehidupan masyarakat untuk bangkit dari krisis akibat COVID-19. 

Sejak diumumkan Indonesia positif COVID-19 pada awal Maret 2020,  mahasiswa diharapkan ikut berperan aktif dalam berbagai aksi sosial dan  melahirkan karya inovatif dan nyata. Langkah pertama adalah menjadi warga  negara yang mampu memimpin diri sendiri secara kreatif dan memastikan diri  sendiri untuk dalam keadaan mental yang aman dan stabil. Mahasiswa dapat  melindungi diri mereka sendiri, keluarga mereka dan lingkungan mereka dari  virus dengan tinggal di rumah dan keluar jika diperlukan. Seorang intelektual  harus mampu memberi contoh dan memimpin. Mahasiswa dapat menggunakan  jejaring sosial untuk membuat kegiatan dengan masyarakat luas. Mahasiswa dapat  menghimbau kepada masyarakat melalui media online untuk mematuhi protokol  kesehatan, menjaga jarak fisik, dan mengajak berdonasi kepada yang  membutuhkan selama masa pandemi. Pada era milenium ketiga ini kita harus  mampu berpacu dengan teknologi dan memanfaatkan segala fasilitas yang ada  dengan maksimal sehingga dapat diperoleh hasil yang optimal. 

Komunikasi adalah kunci utama dalam interaksi sosial, dengan  berinteraksi langsung dengan masalah maka mahasiswa akan lebih memahami  persoalan yang tengah dihadapi dan mampu mencari solusi yang paling cocok.  Keterampilan komunikasi yang baik membantu mahasiswa berinteraksi dalam  lingkungan sosial untuk menyampaikan pesan-pesan positif, mengedukasi  masyarakat, dan membuka wawasan sehingga masyarakat dapat memahami 

informasi secara akurat dan kritis. Salah satunya terkait pentingnya menjaga  kesehatan mental. 

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dapat dilakukan dengan  kampanye edukasi tentang kesehatan mental. Menyadarkan masyarakat bahwa  Kesehatan mental bukan merupakan hal yang tabu untuk dibicarakan. Kegiatan  seperti ini diperlukan untuk meningkatkan kesadaran mengenai kesehatan mental,  tidak hanya untuk masyarakat luas namun juga untuk mahasiswa/i itu sendiri  karena pengaruh dari pembelajaran daring sesungguhnya berefek sangat besar  untuk mental pelajar karena pada masa pandemic saat ini tekanan tidak hanya dari  kampus atau sekolah namun juga lingkungan rumah yang kurang kondusif dapat  berpengaruh besar bagi kegiatan belajar mengajar yang dapat berimbas pada  kesehatan mental pelajar. Terhadap masyarakat keadaan new normal dapat  menjadi tekanan tersendiri yang dapat berakibat berubahnya pola hidup  masyarakat. 

Kampanye secara virtual menjadi pilihan karena beradaptasi dengan  situasi di masa pandemi COVID-19, agar tetap bisa memberikan hal positif  kepada masyarakat dengan mengikuti protokol Kesehatan. Daud dan Aprilani  (dalam Khoerunnisa, dkk 2018:2) mengatakan bahwa kampanye bertujuan untuk  mensosialisasikan suatu program, aktivitas dan informasi tertentu;  memperkenalkan sesuatu; meningkatkan kesadaran dan mencari dukungan publik  serta untuk mempengaruhi dan membujuk publik. Komunikasi dalam kampanye  membentuk sebuah kegiatan yang dilaksanakan dengan konsisten pada suatu  kelompok masyarakat. Hal tersebut dapat menciptakan perubahan pada sikap,  opini, persepsi atau mental publik dalam pelaksanaan kampanye. 

Berbagai bentuk kegiatan yang dapat dilakukan dalam meningkatkan  Mahasiswa dalam Kampanye Proaktif Penguatan Mental Masyarakat Pandemi  COVID-19, antara lain: 

1. Kampanye Sosial Media

Kampanye pada media sosial dapat memanfaatkan segala  

fitur media sosial yang ada, misalnya: 1) Mengunggah konten  mengenai kesehatan mental tentang definisi, penyebab terjadi  masalah mental, masalah atau persoalan yang mempengaruhi  hubungan dengan orang lain, 2) Siaran langsung bersama  narasumber mengenai kesehatan mental, bisa melalui laman media  sosial seperti Instagram atau YouTube, 3) Menangani masalah  kesehatan mental atau menjadi tempat berbagi cerita dan keluh  kesah apalagi bila mahasiswa yang menjadi fasilitator tersebut  tergabung dalam PIK-M maka tidak menutup kemungkinan  mahasiswa yang demikian dapat menjadi konselor sebaya. 

2. Webinar 

Dengan mengundang narasumber yang ahli di bidangnya  

diharapkan dapat menumbuhkan dan menanamkan kesadaran pada  masyarakat bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan  kesehatan fisik untuk melewati pandemic COVID-19 ini.  Mahasiswa dapat menyelenggarakan kegiatan ini dengan  bekerjasama dengan berbagai pihak mulai seperti komunitas di  universitas hingga instansi pemerintahan terkait. 

Kegiatan-kegiatan seperti ini merupakan bukti nyata dari mahasiswa dalam  kampanye proaktif penguatan mental masyarakat di masa pandemi COVID-19.  Mahasiswa menjalankan fungsi sosial sebagai penggerak dan subjek perubahan. 

 Era saat ini membuat masyarakat mengalami gegar budaya yang  mengakibatkan berubahnya pola hidup mereka. Oleh karenanya, kesehatan mental  menjadi suatu hal penting untuk dijaga dalam menghadapi perubahan lingkungan.  Namun, banyak orang yang tidak memiliki sarana tersebut maka dari itu  mahasiswa tidak boleh hanya menjadi penonton, mahasiswa sebagai agen  perubahan harus bisa menjadi pelakon dalam mempelopori perubahan tersebut.  Gangguan mental sekecil apapun penting untuk diobati, meningkatkan kesadaran 

diri dan kepekaan terhadap sekitar menjadi kunci dalam menjalin komunikasi dan  saling membantu antar sesama. Mahasiswa adalah pelakon sejarah maka sekali  lagi mahasiswa harus bisa menunjukan eksistensinya dalam membantu merangkai  sejarah baru di bawah nama new normal. 

REFERENSI 

Widjaya, R., dkk. 2020. KAMPANYE EDUKASI KESEHATAN MENTAL IG  @healthy_mind BAGI MAHASISWA JABODETABEK DI MASA PANDEMI  COVID -19. Vol. 3, 853-854. Banten: Universitas Pelita Harapan.  file:///C:/Users/User/Downloads/961-Article%20Text%20(Fullpaper)-4762-1-10- 20210120.pdf 

Khoerunissa, R., dkk. 2018. Aktivitas Kampanye Public Relations dalam  Mensosialisasikan Internet Sehat dan Aman. Jurnal Ilmu Hubungan Masyarakat.  Vol. 3 No. 4, 79-96. Bandung: UIN Sunan Gunung Djati.  

http://jurnal.fdk.uinsgd.ac.id/index.php/reputation/article/view/453/96


Komentar

Postingan Populer