ESAI: MELIHAT INDONESIA DARI KELAPA SAWIT "MEMBANGUN INDONESIA DENGAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN KELAPA SAWIT"




Peranan industri minyak sawit Indonesia terhadap pembangunan  berkelanjutan sangat besar, baik dalam konteks ekonomi, sosial, maupun ekologi.  Perkebunan kelapa sawit merupakan industri strategis Indonesia. Pada tahun  1980-an sampai era pertengahan 1990-an, industri kelapa sawit bertumbuh sangat  pesat dan memengaruhi dinamika persaingan antar minyak nabati. Namun, dibalik  itu ada bentuk kampanye hitam dan tudingan perkebunan kelapa sawit sebagai  latar belakang deforestasi di Indonesia, sejarah deforestasi pada era logging di  Indonesia selalu dikaitkan dengan perkembangan perkebunan kelapa sawit dan  seolah memberi gambaran dan juga pandangan buruk terhadap keberadaan  perkebunan kelapa sawit. Pada kala itu, areal bertambah sekitar 11% per tahun.  Sejalan dengan perluasan areal, produksi juga bertambah dengan laju 9.4% per  tahun. Laju yang demikian pesat melabeli kelapa sawit sebagai salah satu bintang  lapangan pada sub-sektor perkebunan. Bagaimana pembangunan kelapa sawit  dilihat dari sudut pandang pembangunan berkelanjutan? Kelapa sawit sendiri  memiliki citra yang buruk karena maslaah deforitasi dan pencemaran lingkungan  karena limbanh yang dihasilkan. Apakah mungkin Indonesia membangun bangsa  dengan kelapa sawit?

Pasar minyak nabati global merupakan salah satu pasar yang kompetitif,  melibatkan lebih dari sembilan jenis minyak serta hampir diproduksi dan  dikonsumsi di berbagai belahan dunia, baik negara maju maupun negara  berkembang. Minyak nabati yang banyak diperdagangkan di pasar internasional  antara lain minyak kedelai, minyak sawit, minyak biji rami, minyak biji matahari,  minyak kelapa, minyak jagung, dan minyak kacang tanah. Minyak kelapa sawit  sendiri memiliki keunggulan, dalam sudut pandang ekonomi, industri minyak  sawit berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan, menghasilkan devisa,  modernisasi daerah, dan berhasil membuat peladang menjadi berpendapatan  menengah.

Pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture), meyakini definisi  Organisasi Pangan dan Agrikultur (FAO, 1996) ialah “The management and  conservation of the natural resource base, and orientation of technological and  institutional change in such a manner as to ensure the attainment and continued  satisfaction of human needs for present and future generation. Such development  (in agriculture, forestry, and fishing) conserves land, water, plant, and animal  genetics resources is environmentally non-degrading, technical appropriate,  economically viable, and social acceptable”, Hal ini memuat makna bahwa  pertanian berkelanjutan merupakan sebuah pengelolaan dan perlindungan sumber  daya alam yang bertujuan memayungi keberlanjutan sumber daya lahan, air, serta  sumber genetik tanaman dan satwa yang dilakukan dengan baik dan layak secara  ekonomi dan sosial. Perspektif sustainability di atas berlandaskan pada teori  multifungsi pertanian, yang mencakup empat fungsi, yakni green function, blue  services, yellow services, dan white function (Aldington, 1998). 

Pembangunan berkelanjutan merupakan suatu proses pembangunan yang  bersifat inklusif dan berkualitas. Paradigma pembangunan berkelanjutan telah  dijadikan PBB (United Nations 2014) sebagai sebagai tujuan global tahun 2015  sampai 2030 yang dikenal sebagai Sustainable Development Goals 2030 sebagai  dasar pembangunan global setiap negara maupun sektor baik daerah maupun  industri yang berkelanjutan tidak hanya cukup atau eksklusif menghasilkan  manfaat ekonomi tapi juga secara terus-menerus dapat menghasilkan atau  memberikan manfaat kepada lingkungan dalam lingkup sosial tapi juga memberi manfaat ekologis baik bagi generasi sekarang maupun generasi yang akan datang.  Pembangunan berkelanjutan merupakan suatu hal yang relatif dan bersifat spesifik  bagi setiap negara baik dalam sektor tertentu maupun industri terkait dengan  pembangunan berkelanjutan, perkebunan kelapa sawit Indonesia mencakup tiga  pilar penting yakni keberlanjutan dalam dimensi ekonomi, sosial, dan ekologis. 

Minyak kelapa sawit memiliki banyak fungsi mulai dari fungsi domestik  seperti bahan olahan makanan, perlengkapan mandi, hingga make up, dan harga  dari minyak kelapa sawit jauh lebih murah daripada minyak nabati lainnya namun  media pemberitaan kerap kali hanya berfokus kepada sisi gelap industri kelapa  sawit media kerap kali mengangkat isu-isu buruk mengenai industri kelapa sawit 

dan jarang mengangkat berita yang menunjukan bagaimana cara industri  menyelesaikan masalah tersebutr, bahkan media kerap menggiring opini kearah  yang buruk. Produksi minyak kelapa sawit mulaai mendapat kecaman seiring  dengan makin buruknya citra minyak kelapa sawit di masyarakat. Persoalan ini  bertambah runyam dan menjadi semakin panas, Ketika Uni Eropa menghapus  minyak kelapa sawit sebagai sumber bioenergi pada 2030. Oleh karena itu, 2 importir kelapa sawit terbesar- Malaysia dan Indonesia- tengah berjuang melawan  aturan tersebut. Pelarangan Eropa terhadap ekspor minyak kelapa sawit  dikarenakan minyak kelapa sawit melampaui batas ambang lingkungan sebesar  10% bahkan menurut sebuah laporan telah mencapai 35%, meski demikian keputusan Uni Uni Eropa ini dinilai terlalu dini. 

Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) mengeksplorasi  pemanfaatan limbah industri kelapa sawit untuk bioenergi, kelapa sawit dalam  prespektif pembanguan berkelanjutan berlandaskan dengan pemanfaatan limbah  sawit yang kerap kali dianggap sampah. Saat ini kita bersaing dengan waktu maka  diperlukan jalan keluar terbaik. Oleh karena itu, untuk membuat produk-produk  kelapa sawit yang lebih ramah lingkungan dan menunjang pembangunan  berkelanjutan pusat penelitian kehutanan internasional memberi jalan keluar  dengan pemanfaatan limbah kelapa untuk menjadi bioenergi. Produksi yang  tinggi di Indonesia dapat dimanfaatkan dan dikelola dengan baik untuk menjadi  sumber energi terbarukan yang dapat menunjang kehidupan masyarakat salah satu  contohnya adalah pada tahun 2017 Indonesia memproduksi 38 juta ton minyak  kelapa sawit mentah (CPO) hal ini dapat menjadi biodiesel yang penting bagi  pasar lokal maupun internasional. Limbah dari produk CPO yakni limbah cair  kelapa sawit (POME) tidak terkelola dengan baik karena gagal menarik pasar  energi terbarukan di Indonesia padahal ada sumber energi besar dibaliknya Dengan memanfaatkan produk yang merupakan limbah dan dianggap sampah  dengan cara itu kita dapat mencegah meluasnya deforestasi dan turut membangun  perekonomian di lingkungan perkebunan dengan hal itu maka kelapa sawit dapat  menjadi salah satu pilar penunjang pembangunan bangsa melalui kelapa sawit dan  kelapa sawit dapat menjadi wajah Indonesia dimata dunia. Sudah banyak pelaku  usaha yang paham betul terhadap pemanfaatan limbah kelapa sawit sehingga ada 

peluang bisnis yang jelas, serta manfaat sosial dari penggunaan limbah kelapa  sawit. 

Bahkan dalam kondisi seperti pandemi pada tahun 2020 industri kelapa  sawit dapat mendulang keuntungan dan berdiri tegak, industri ini telah  berkontribusi untuk mengentaskan kemiskinan dan menciptakan lapangan  pekerjaan bagi sekitar 16 juta pekerja sehingga industri ini merupakan sektor yang  sangat strategis dan perlu untuk tidak mendapat perhatian lebih oleh seluruh  komponen masyarakat karena banyak sekali bagian yang dapat diolah secara  optimal dan maksimal. Berkenaan dengan konteks pembangunan berkelanjutan  tersebut, perkembangan perkebunan kelapa sawit Indonesia mencakup tiga pilar  penting, yakni keberlanjutan dalam dimensi ekonomi, sosial, dan ekologis. 

a. Dalam aspek ekonomi, Industri minyak kelapa sawit berperan dalam  pembangunan berkelanjutan dalam bentuk Sumber devisa dan pendapatan negara  pembangunan ekonomi daerah atau pembangunan ekonomi lokal dan juga adanya  peningkatan pendapatan bagi para pelaku industri misalnya petani dan peladang.  Perkembangan industri minyak sawit juga bersifat inklusif, yakni menarik  perkembangan sektor-sektor lain (Amzul, 2011; PASPI, 2014). Tidak hanya  memiliki dampak baik bagi negara eksportir nama juga berdampak baik bagi  negara importir seperti Uni Eropa, dengan adanya industri minyak kelapa sawit  maka akan ada peningkatan GDP, penerimaan pemerintah, dan juga terbukanya  kesempatan kerja.. 

b. Dalam aspek sosial, Industri kelapa sawit seperti yang telah disebutkan  memiliki dampak besar bagi peningkatan perekonomian peningkatan  perekonomian ini juga berarti bahwa industri minyak sawit terbukti secara  empiris, antara lain mampu menjadi peluang kerja sehingga akan ada pengurangan  pada aspek pengangguran dan akhirnya menekan angka kemiskinan dan juga desa  tempat adanya perkebunan kelapa sawit dapat terkena imbas baiknya yakni  pembangunan desa akan berlangsung lebih cepat.

c. Dalam aspek ekologi, dilihat dari aspek lingkungan pohon sawit  menyuplai oksigen dan juga menyumbang pada pembangunan berkelanjutan  melalui peranannya dalam menyerap karbon dioksida. Kelapa sawit juga berperan  sangat penting dalam konservasi tanah dan air yakni dengan membentuk biopori  alami. Bahkan perkebunan kelapa sawit di lahan gambut dapat mengurangi emisi  gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan pemanasan global sehingga.  Selain itu limbah dari kelapa sawit sendiri dapat digunakan untuk untuk di untuk  diolah menjadi bioenergi dan biodiesel sehingga dapat menekan penggunaan  bahan bakar fosil yang bisa menyebabkan pencemaran lingkungan. 

Perkembangan industri minyak sawit yang bersifat inklusif dan menarik  perkembangan sektor-sektor lain dapat menjadi keuntungan tersendiri. Dalam  sudut pandang sosial, industri minyak berperan dalam pembangunan pedesaan,  pengurangan kemiskinan, pemerataan pembangunan ekonomi, serta memperbaiki  ketakseimbangan pendapatan dan pembangunan antara daerah perkotaan dan  pelosok (area perkebunan). Dalam sudut pandang ekologi, perkebunan sawit  menyumbang pada pembangunan berkelanjutan melewati peranannya sebagai  bagian dalam menyerap CO2 dan menghasilkan O2 serta meningkatkan biomassa  lahan. 

Indonesia dapat menjadikan sawit sebagai komoditas perdagangan  internasional nya dimana dapat menjadi representasi Indonesia di mata dunia, kelapa sawit memiliki banyak manfaat juga merupakan sektor industri perkebunan  yang baik dan memiliki dampak positif bagi perekonomian, sosial budaya, dan  ekologi kita harusnya mengentaskan paradigma-paradigma negatif dan berdampak  buruk terhadap perkebunan kelapa sawit sehingga kita dapat membangun  Indonesia dengan kelapa sawit yang berkelanjutan sehingga hasil industri kelapa  sawit tidak hanya dinikmati oleh generasi saat ini namun juga untuk generasi yang  akan datang.


DAFTAR PUSTAKA 

Aldington, T. J. (1998). Multifunctional agriculture: A brief review from  developed and developing country perspectives. Unknown status. FAO  Agriculture Department, Internal Document 2. Roma: FAO. 

Amzul, R. (2011). The role palm oil industry in Indonesia economy and its export  competitiveness (Disertasi Ph.D.). University of Tokyo, Jepang. FAO. (1996). Environment, sustainability, and trade. Linkages for Basic Food  Stuff Rome. Roma: FAO. 

FAO.. (2017). Precentage of Agricultural Area Under Produvtive and Sustainable  Agriculture. Roma: FAO. 

Sipayung, T., & Purba J. H. (2017). Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia dalam  Prespektif Pembangunan Berkelanjutan. STIE Kesatuan Bogor, Indonesia.



Komentar

Postingan Populer