CERPEN: Tetap Menjadi Emas
TETAP MENJADI EMAS
Sejak setahun yang lalu bumi tengah sakit, terbatuk-batuk dan tertatih-tatih melewati detik demi detik seolah dapat kapan saja ambruk dan menyerah pada keadaan tapi malam tidak pernah selamanya abadi. Selalu akan ada fajar setelah gelap yang dalam. Setidaknya begitulah yang Haikal pikirkan. Baru sedetik yang lalu rasanya merayakan Idul Fitri 1441 H, kini tiba-tiba saja sudah menyambut ramadhan 1442 H. Bumi memang masih sakit virus-virus kecil itu memang masih berterbangan di luar ruangan sana, menari-nari mengikuti hembusan angin layaknya butiran debu.
“Hah, astagfirullah, kapan pandemi berakhir?” Helaan nafas keras terdengar dari Haikal, tangannya bertumpu pada kusen jendela sedangkan wajahnya menampakan rasa kesal.
“Hush, jangan terlalu banyak mengeluh, daripada mengeluh saja lebih baik kamu berdoa semoga pandemi segera berakhir. Kalau seperti itukan lebih bermanfaat.” Tegur Firdaus yang kini berdiri di depan pintu kamar Haikal dengan tangan yang penuh dengan tumpukkan baju.
Haikal hanya menekuk bibirnya dan dengan malas berdiri untuk menyambut tumpukkan lipatan baju dari tangan Kakaknya.
“Lagipula kalau kamu bosan terus di rumah ada kok banyak kegiatan yang bisa kamu kerjakan, misal membantu membersihkan rumah, membantu Ibu masak untuk berbuka, membantu ayah mencuci motor, dan banyak lagi kegiatan yang bisa kamu lakukan.” Ucapan Kakaknya itu hanya ditanggapi Haikal dengan helaan nafas yang keras.
“Cih, seperti Kakak tidak pernah mengeluh saja. Sudah sana keluar dari kamarku.” Tangannya mengibas-ngibas di udara memberi gestur mengusir.
“Heh, kamu itu ya. Diberi tahu tapi malah seperti itu. Ya sudahlah, memang ada baiknya tidak mengajari babi bernyanyi.” Firdaus pergi dengan suasana hati yang kesal dan menutup pintu kamar Sang Adik dengan keras.
“Kalau berbicara kasar nanti pahala puasanya kurang, apalagi menjuluki seseorang dengan julukan yang buruk!” Dengan menghentakan kaki dia membuka sedikit pintu kamar kemudian berteriak, “Apalagi kalau mengolok-olok adiknya sendiri sebagai babi!”
Waktu berlalu layaknya lesatan roket di nabastala, rasanya baru tadi pagi dia dan Sang Kakak bertengkar. Kini tiba-tiba saja adzan maghrib berkumandang menandakan waktu berbuka telah tiba. Haikal dan keluarganya duduk melingkar di atas karpet dari rotan dengan makanan di tengah mereka. Tak lupa ada sebuah gawai yang disandarkan tak jauh dari mereka menampilkan sebuah panggilan video dari seorang pemuda.
“Nak, di sini sudah adzan. Di tempatmu sudah adzan belum?” Wanita paruh baya yang masih nampak cantik itu bertanya dengan lembut kepada orang yang berada dalam sambungan telepon.
“Ini baru saja adzan Bu. Kita ini sama-sama di zona waktu Indonesia barat loh Bu. Masa iya beda.” Sahut pemuda itu diiringi dengan kekehan.
“Ah, iya juga ya.” Ibunya ikut terkekeh.
“Kak Has, kuliahnya lancarkan? Masuk berapa kali untuk pembelajaran tatap mukanya?” Firdaus bertanya sambil mengambil sepotong bingka srikaya dari atas piring.
“Alhamdullilah lancar Fir, kalau tatap muka sih tergantung dosennya. Kalau dosennya minta tatap muka, maka pembelajarannya tatap muka tapi kalau tidak ya tidak. Seminggu mungkin hanya masuk sekitar dua atau tiga kali.”
“Sudah dulu mengobrolnya, segera sholat maghrib, jangan lupa qabliah dan ba’diah-nya.” Sang Ibu mulai membereskan piring dan semua peralatan makan di depan mereka, Haikal yang belum puas mncoba menahan piring miliknya.
“Kal, sudah jangan makan terlalu banyak nanti ketika sholat tarawih perutmu bisa sakit. Dan segera sholat maghrib, jangan lupa mengaji, ini bulan ramadhan jangan disia-siakan dengan ibadahmu yang standar itu.” Setelah berucap demikian beliau mengambil gawai yang sedari tadi masih tersambung dengan Sang putra yang kini bearada di seberang pulau,
“Ibu akhiri dulu ya. Jangan lupa jaga kesehatan. “
Setelah berbuka keluarga itu segera menunaikan sholat maghrib di rumah secara berjamaah. Kemudian di lanjutkan dengan membaca Al-Qur’an sepatah-dua patah ayat. Mereka lalu bergegas pergi ke masjid untuk menunaikan ibadah sholat tarawih. Berbeda dengan keadaan tahun lalu yang memang tidak membolekan sama sekali tarawih tahun ini ketentuannya sedikit longgar, tarawih tetap boleh dilaksanakan dengan ketentuan-ketentuan tertentu misalnya masjid hanya boleh diisi separuh dari kuota aslinya demi mempertahankan jarak sosial.
Seusai sholat tarawih dalam perjalanan pulang Firdaus yang berjalan beriringan berdua dengan Haikal –karena orang tua mereka telah lebih dulu berjalan di depan- merasa bahwa keheningan terlalu mencekam, dia pun teringat bahwa besok dia akan ada kegiatan amal.
Terlihat dari sudut mata Haikal bahwa sang Kakak menegakkan punggungnya dan melipat kedua tangannya di depan dada posisi yang akan selalu beliau lakukan saat sedang serius dan ingin mengajak orang lain berdiskusi.
“Komunitas Kakak akan mengadakan acara bakti sosial dengan membuka stand takjil gratis di daerah hulu sungai, daerah itu lumayan di bawah garis kemiskinan, kamu mau ikut? Dari pada kamu mengeluh terus di rumah karena tahun ini tak bisa mudik dan keluar dengan teman-temanmu.” Beliau menghembuskan nafas lelah, dan kemudian menatap Haikal.
“Kami juga berencana untuk mengajari anak-anak di sana membaca dan menulis, tapi komunitas Kakak kekurangan anggota, bagaimana pendapatmu?”
Haikal hanya menatap mata Kakaknya sejenak kemudian mengangguk setuju, ide yang tidak buruk juga pikirnya, ketimbang dia hanya menghabiskan waktu di rumah karena pandemi menghalangi banyak aktifitasnya.
Keesokan harinya ba’da ashar, dengan berpakain rapi Haikal serta Firdaus segera berangkat pergi ke titik pertemuan yang telah ditetapkan oleh teman-teman komunitas Firdaus. Barulah setelahnya mereka bersama menuju lokasi kegiatan. Karena lokasi pemukiman yang ingin mereka datangi cukup terpencil maka mereka melanjutkan perjalan sekitar 500 meter ke dalam gang dengan berjalan kaki.
Jalan menuju pemukiman begitu sulit untuk dilalui jalan becek dan banyak lumpur, hal ini membuatnya sedikit menyesal mengenakan sepatu putih karena sekarang itu berubah menjadi kecoklatan, dan dipenuhi lumpur.
“Kak, kok nggak bilang sih kalau tempatnya becek seperti ini.”
“Ya, maklum kemarin malam kan hujan cukup deras.” Balas Firdaus acuh tanpa melihat ke arah Haikal.
Rumah-rumah di sana bisa dikatakan tak layak huni dan benar-benar kumuh, banyak rumah dari terpal atau baner yang berdiri asal-asalan. Beberapa yang lebih beruntung memiliki dinding kayu yang sudah terlihat keropos termakan rayap.
Mereka akhirnya sampai ke tempat yang akan dijadikan tempat acara, sebuah tanah lapang yang cukup kering dengan sedikit rumput. Mereka mulai mendirikan tenda-tenda yang bertuliskan nama-nama badan atau tempat yang memberi dana pada acara itu.
Selama mereka melakukan persiapan banyak anak-anak yang menonton dari pinggir lapangan, menatap dengan mata polos dan penuh rasa ingin tahu. Setelah seluruh persiapan selesai, mereka membuka acara dan anak-anak mulai menyerbu masuk dan mendatangi meja-meja yang penuh akan makanan, mereka duduk dengan rapi di bangku-bangku panjang yang disediakan. Beberapa anak yang lebih muda berkerumun di tenda yang dijaga oleh Firdaus, tenda untuk belajar membaca dan menulis.
Melihat senyum anak-anak itu membuat Haikal terunyuh, senyum mereka lebih cerah dari sinar mentari pagi, dan tawa mereka bahkan lebih indah dari suara musik klasik. Tak terasa waktu berlalu seperti sebuah film komedi yang menyegarkan, hingga akhir acara Haikal benar-benar penuh dengan energi. Beberapa orang tua turut hadir, keadaan sempat ricuh karena banyak orang yang berebut makanan. Namun, untungnya mereka bisa menangani hal tersebut, setelah acara berbagi takjil mereka, melaksanakan sholat berjamaah di mushola setempat, setelah itu mereka membagikan bingkisan sembako kepada masyarakat.
“Bagaimana rasanya?” Firdaus merangkul bahu Haikal.
“Sangat menyenangkan bisa membantu orang lain.” Jawabnya sambil tersenyum lebar.
“Kita sekarang mengalami pandemi kemanusiaan, karena pandemi virus corona banyak dari kita yang menutup mata akan pesakitan sesama. Fokus mengeluhkan keadaan diri, tak mau membantu karena merasa diri sendiri perlu ditolong, padahal membantu bukan menunggu ketika kita mampu tapi cukup ketika kita mau.” Kaki Firdaus melangkah menjajaki tanah yang becek dengan ditemani temaram lampu bohlam kuning dari rumah penduduk.
Dia mengambil gawai di sakunya kemudian mengaktifkan senter, “Banyak orang menolak membantu sesama karena alasan takut tertular virus, tapi itu semua hanya berlaku untuk orang kurang mampu saja, padahal bertemu teman di kafe pun masih di lakukan. Orang-orang kecil itu selalu disalahkan, mereka keluar tanpa masker mereka diberi sanksi, mereka pergi bekerja ketika PSBB mereka dijuluki egois padahal jika tidak seperti itu mereka harus bagaimana lagi? Seharusnya dari pada mengolok-olok usaha orang lain akan lebih baik kalau kita memberi solusi dengan memberikan mereka bantuan misalnya, karena masih banyak bantuan yang tak tepat sasaran. Jika kita bergantung pada pemerintah maka masalah kemiskinan tak akan pernah usai.”
Setelah sampai di tempat mereka memarkirkan kendaraan, mereka segera berkendara untuk pulang ke rumah. Wajah Haikal terasa dingin diterpa angin malam, setelah dipikir bukannya ramadhan di tengah pandemi ini seolah memiliki kesan yang lebih berarti. Karena di ramadhan tahun ini kita benar-benar diajari untuk menghargai waktu bersama orang terkasih, kita menjadi tahu seberapa penting menjalin silaturahmi, kita menjadi lebih bersyukur dengan apa yang kita miliki karena sesungguhnya bahkan satu tarikan nafas kita adalah anugrah dari Yang Maha Kuasa.
Keadaan sekarang mungkin tak baik-baik saja tapi pasti akan membaik pada waktunya, akan membaik sedikit demi sedikit dan perlahan menjadi kenormalan yang utuh. Buktinya keadaan tahun ini lebih baik dari pada tahun lalu, manusia, masyarakat sedikit demi sedikit sudah mampu hidup berdampingan dengan keadaan baru. Yang terpenting adalah bagaimana kita mau menyikapi keadaan baru tersebut, tetap menjadi cahaya berkilau ditengah gelapnya masa, tetap menjadi emas yang berharga ketika waktu adalah lumpur yang lengket. Mengeluh bukan jalan keluar, tapi dengan sedikit tindakan nyata pasti ada perubahan yang berarti. Jadi tetaplah menjadi emas dalam gelapnya buana ini.
Sampit, 19 April 2021
Biodata Penulis:
Nama saya Enika Maya Oktavia, seorang pecinta hujan dan semangka. Bagi saya menulis adalah salah satu cara kita untuk meninggalkan jejak di atas dunia, dan membuat nama kita tak akan hilang tertelan waktu. Saya merupakan salah satu penulis dari 10 buku antalogi diantaranya, Jarak Tanpa Tepi (2020), Syair Corona (2020), Jangan Menyerah (2020), Ruang Imaji (2021), Historia De Amor (2021) dan lain-lain.
Komentar
Posting Komentar