ARTIKEL: Membantu Ketika Mau Bukan Menunggu Mampu
Membantu Ketika Mau Bukan Menunggu Mampu
Pandemi COVID-19 adalah krisis global yang tidak hanya menyerang kesehatan fisik seseorang, tetapi juga kesehatan mentalnya. Begitu banyak kabar buruk yang diterima, membuat orang-orang mengkhawatirkan diri sendiri, keluarga, teman terdekat bahkan lingkungan di sekitar mereka. Faktor lain yang menjadi penyebab kecemasan di masyarakat pada masa pandemi COVID-19 adalah stres akibat isolasi sosial efek dari adanya pembatasan yang dilakukan Pemerintah dalam rangka menekan penyebaran COVID-19 mempersempit ruang gerak masyarakat. Kecemasan berlebihan pada masa karantina dapat meningkatkan risiko anxiety, depresi, hingga gejala stres pascatrauma. Salah satu penyebab pikiran dan perasaan negatif itu muncul tidak lain karena keputusasaan yang timbul dari signifikansi krisis COVID-19.
Sejak diumumkannya kasus positif COVID-19 di Indonesia pada maret 2020, dunia seolah berhenti dan berotasi lagi. Kabar duka silih berganti menyapa pintu tak henti-henti, khawatir, cemas, ragu, bercampur menjadi satu. Dunia sedang tidak baik-baik saja, dunia sedang merintih dan berdoa bertanya-tanya dimanakah adanya kemanusian. Tidak perlu Presiden, Raja, Perdana Menteri, atau Kaisar kita hanya perlu manusia yang memanusiakan manusia lainnya untuk bisa bangkit dari keterpurukan akibat pandemi ini. Masyarakat satu sama lain saling egois mementingkan masalah pribadi, dengan alasan dirinya sendiri pun masih dicerca kesulitan dan masih belum mampu untuk memberi uluran tangan, padahal membantu sesama tidaklah seberat itu, tidak sesulit kita mengangkat galon ke atas dispenser karena yang kita butuhkan hanya keringanan hati dan kemauan untuk meringankan beban satu sama lain.
Saatnya kita memperhatikan satu sama lain, cukuplah menengok tetangga di sebelah rumah apakah dapurnya masih mengepul atau malah terdengar suara rintihan dan tangisan dari bilik-bilik kamarnya. Selama pandemi COVID-19 ini semua sektor terdampak, jangankan pedagang kecil yang gulung tikar, perusahaan besar pun harus mengetatkan ikat pinggang. Hal ini berakibat pada pemutusan hubungan kerja (PHK) massal, perekonomian yang sudah lesu ditambah dengan kehilangan pekerjaan maka tanpa masyarakat yang saling tolong menolong maka kita sama saja menggiring saudara/i kita menuju lubang kelaparan.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto menyebutkan bahwa angka pengangguran di Indonesia tembut 9,77 Juta jiwa per periode Agustus 2020. Sebagai dampak dari pemutusan hubungan kerja tersebut maka dengan uang pesangon yang ada banyak masyarakat memilih untuk mencoba peruntungan dengan membuka usaha maka tak aneh lagi kini wajah perkotaan dihiasi dengan banyak pedagang-pedagang baru yang menjajal berbagai usaha. Dengan adanya UMKM baru disekitar kita seperti ini sudah saatnya kita menumbuhkan jiwa mau membantu dengan cara mendukung dan membeli produk-produk tersebut, dengan demikian maka diharapkan akan tumbuh ekonomi baru. Hanya dengan tindakan kecil berupa membeli atau membantu memasarkan produk yang kita beli kita sudah mewujudkan sikap saling peduli antar sesama. Seruan yang sama juga digaungkan oleh PBB untuk Pangan dan Pertanian (FAO).
Selain pengangguran yang membludak, banyak pula anak-anak yang harus kehilangan figur orang tuanya meninggal akibat terpapar COVID-19, baik kehilangan salah satu maupun kedua-duanya. Pertanyaannya kini, siapa yang akan merawat, mengasihi, dan juga membantu mereka? Memang benar bahwa dalam Pasal 34 Ayat 1 Undang-Undang Dasar 1945 menyatakan bahwa, “fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh Negara.” Tapi apakah kita sebagai masyarakat hanya akan berpangku tangan menunggu hingga pemerintahlah yang bergerak, mari kita analogikan bahwa anak-anak itu akan mati kelaparan dalam 3 hari, lalu bantuan Pemerintah baru tiba di hari ke-5, bukankah sama saja kita menjadi alasan mengapa mereka bisa mati kelaparan padahal saat itu kita bisa membantu mereka sambil menunggu bantuan dari Pemerintah. Membantu sesama tak perlu menunggu mampu kita hanya perlu kata mau, mau bertindak, mau mencari jalan keluar, dan mau membantu.
Dalam hal ini ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk membantu sesama, antara lain:
1. Memberikan Bantuan Makanan dan Obat-obatan
Ketika COVID-19 diumumkan banyak dari masyarakat yang melakukan panic buying dan akhirnya menimbun kebutuhan-kebutuhan tersebut, jika kita masih memiliki persedian di rumah, pertimbangkanlah untuk sedikit berbagi kepada mereka yang tidak
mampu membelinya. Menyalurkannya lewat organisasi terkait atau kita bisa sekaligus berpartisipasi menjadi relawan agar kita lebih mengenal keadaan.
2. Lebih Peduli Kepada Kerabat, Tetangga dan Anak Yatim
Tanyakan kabar dan apa yang bisa kita bantu kepada kerabat atau tetangga kita karena mungkin mereka sungkan untuk menanyakan bantuan walaupun mereka tengah membutuhkan atau mengalami kesulitan. Jika kita masih memiliki kerabat dalam rentang usia 60> alangkah lebih baiknya kita menyediakan stok makanan di rumah untuk mereka. Karena kelompok lansia adalah kelompok yang rentan terpapar. Peduli kepada kerabat adalah langkah awal dari menanamkan rasa kemanusiaan dan juga empati dalam diri kita. Anak-anak yatim hanya bisa bergantung pada uang yayasan dan juga donasi kita, mereka tidak punya pilihan lain pun jika mereka bisa memilih mereka tidak mungkin ingin berakhir dalam keadaan seperti ini, mari sudahi kesedihan mereka sebarkan kebahagiaan dan kepositifan dalam segala kesempatan.
3. Mendukung Bisnis Lokal/Mikro
Membeli produk usaha kecil sama dengan kita membantu mereka menyambung hidup untuk hari esok, mari kurangi gengsi untuk membeli barang dari pinggir jalan atau berharga murah, ini saatnya kita membantu sesama untuk bangkit dari keterpurukan.
Kita semua sekarang dalam keadaan sekarat jika kita menunggu bantuan turun dari pihak A, B, atau C maka kita yang sekarat karena kelaparan, karena kehausan, karena rasa cemas dan takut, akan mati sebelum bantuan tiba. Oleh karena itu jangan menunggu mampu tapi buatlah diri kita mau, mau untuk membantu, mau untuk bergerak dan beranjak, dan mau untuk saling tolong menolong. Apa yang kita anggap hal kecil kadang berarti besar di mata mereka yang membutuhkan.
Komentar
Posting Komentar