CERPEN: Garis Dunia
Tangan wanita itu
menghujamkan pisau tepat kearah jantungnya, dia menahannya sekuat yang dia
bisa.
Pandangan mata wanita itu begitu marah padanya, sekelebat ingatan ketika dia menipu wanita itu menghampiri pikirannya, tapi yang menentukan pilihan jalan hidupnya bukan dirinya tapi Kosmos yang menetapkan sistem bahwa dia harus menjebak dan menipu wanita itu.
"Argh..." Dia mengerang ketika pisau itu menggores dadanya, bau amis mulai tercium.
Bukannya
dia tidak mau melawan tapi Kosmos menginginkan dia mati dalam tragedi ini.
Alarm dalam otaknya mulai
berdering, kepalanya berdenyut sakit. Dia mulai kehilangan fokus dan disaat
itulah wanita itu menghujamkan pisaunya kedalam jantungnya.
Pikirannya melayang dan jiwanya tersedot oleh hal yang tak kasat mata. Dalam ruangan putih yang memiliki luas tak terhingga jiwanya melayang seperti kepulan asap. Sedikit demi sedikit membentuk tubuh yang utuh dari seorang pemuda berkulit langsat, dengan postur tubuh sempurna. Tiba-tiba sebuah kisah terputar didepannya, seolah ada layar tancap raksasa di sana. Dia membawa tubuhnya yang polos mendekat ke layar, dan duduk dalam diam menonton jalan cerita yang terputar.
"Oh, jadi aku akan menjadi
pemuda ini di kehidupanku yang selanjutnya" Gumamnya, tangannya bergerak
menyisir rambutnya. Dia kemudian berdiri didepannya terbuka sebuah worm hole,
dia lalu memasukinya.
Dengan kekuatan pergerakan
99,5% kecepatan cahaya hukum relativitas seolah tidak bekerja, waktu
disekitarnya bergerak lebih lambat. Tapi dia bergerak 300.000 kilometer
perdetik melewati ruang hampa. Dia melihat ujung dari lubang hitam, dia
memejamkan matanya menunggu jiwanya terlempar keluar dari zona distorsi ruang.
∆
Seorang pemuda tersungkur ke tanah, kepalanya disentuh dengan dinginnya moncong pistol, pembuluh darah di matanya berubah merah dinodai kebencian tanpa dasar. Berdiri tegak di seberangnya seorang pria yang mengenakan pakaian hitam, pria tampan yang
gagah,
tapi bibirnya tersenyum sinis mengungkapkan jutaan poin kelicikan dan
kejahatan.
Batin pemuda itu berseru 'Bunuh dia! Bunuh dia!'
Tapi tangannya yang memegang pisau tidak dapat bergerak, malah dia mulai membicarakan tentang tahun-tahun yang lalu, dari bagaimana dia menghancurkan keluarga pria itu, membunuh orang tua dan kakak perempuannya, menganiaya dengan mencaci dan memfitnah pria itu beberapa tahun terakhir ini.
Telinga pria itu memerah tanda bahwa ia mulai merasa marah, dengan suara yang menggelar dia berteriak "Berhenti bicara omong kosong! Ini saatnya untuk membunuhnya!"
Hati pemuda tampan itu mengeluarkan raungan keras. Ketika dia akhirnya berhasil mengendalikan pisaunya sendiri, dia kehilangan kesempatan otaknya menderingkan alarm dan telinga mulai berdengung.
"Aku benar-benar membenci Kosmos" Teriaknya dalam hati.
Wanita sekarat yang seharusnya tidak dapat bergerak tiba-tiba meraih pistol dan menembak tepat ke arah kepalanya.
Dia tidak percaya apa yang telah terjadi dan perlahan menoleh, matanya gelap karena cinta, benci, keengganan, dan ketidakberdayaan.
"Aku minta maaf, Seokie." Wanita itu terisak, kericuhan yang berkepanjangan ini akhirnya berakhir, namun kematian antagonis dunia itu bukan berarti akhir, tapi awal dari suatu kisah baru lainnya. Pemuda tampan yang seharusnya sudah meninggal itu, sekarang kembali mengambang di ruangan putih yang luas.
"Huft....aku kembali lagi, setelah 17 tahun hidup di dunia itu. Seokie, nama terakhirku dari dunia itu setelah kupikir-pikir benar-benar lucu " Gumam Seokie disertai kikikan kecil diakhir.
"Tapi kenapa disetiap kehidupan aku selalu seolah menjadi tokoh antagonis atau penjahat?. Menyebalkan" Dia berucap kesal berbicara dengan dirinya sendiri.
"Aku ingin memberontak pada sistem ini, tapi perbuatanku bisa menyebabkan time paradoks pada dunia yang kulalui. Aku sudah melalui jutaan dunia dan juga ribuan kali reinkarnasi tapi aku tidak pernah tahu asal-usul aku diciptakan" Renung Seokie.
Dalam ruangan putih dia berdiri sendirian, terkadang dia ingin menolak misi yang tiba-tiba berdengung diotaknya tapi seolah dikucuri dengan doktrin-doktrin tubuhnya hanya akan mengikuti instruksi. Ruangan putih ini adalah tempat dia lahir, dia tidak tahu-menahu tentang dirinya sendiri yang dia tahu dia harus menjalankan misi dari satu dunia ke dunia lain.
Saat sedang asik-asiknya merenung layar besar seolah dibentangkan dihadapannya, layar yang sudah ia lihat ribuan kali pertanda dia akan kembali menjalankan misi. Dalam layar terlihat seorang pemuda dengan seorang perempuan yang Seokie asumsikan mereka berdua adalah sepasang kekasih tengah berdebat hebat, karena sang perempuan merasa ditipu dan dikhianati.
"Aku harap di dunia kali ini aku tidak akan dibunuh lagi, bagaimanapun rasanya ditusuk atau ditembak itu sakit" Harapnya dengan ceKak. Worm hole kembali terbuka dihadapannya dia pun melangkah kaku.
∆
Warna awan yang sendu, mobil-mobil berbalapan dan payung-payung menggeliat. Hujan berhenti dan Seokie melihat refleksinya di air yang tergenang karena atap yang bocor, dengan latar belakang abu-abu terang di luar ruangan. Dalam tempat berukuran 2×3 meter itu dia membaringkan tubuhnya disebelah sang kekasih yang terlelap, di genggamannya jari-jemari kekasihnya diusapnya pelan. Dipandanginya wajah sang kekasih, mengingat senyum dan tawanya. Hingga akhirnya beberapa ekor lalat mengganggu pandangannya, lalat-lalat itu terbang disekitarnya mengerubungi tubuh seseorang.
"Padahal aku tidak mau membunuhnya tapi sistem mengharuskan begitu" Seokie menghembuskan nafas, berdiri dari baringnya berjalan ke salah satu meja yang ada di ruangan itu, dia mengambil pistol disana perlahan dia mengarahkannya ke kepala.
Tangannya
bergetar mencoba menolak tapi gerakannya seolah tak dikontrol oleh dirinya
sendiri.
"Kenapa disetiap dunia jika aku tidak dibunuh maka aku harus bunuh diri. Padahal misiku adalah memberantas tokoh antagonis dunia dan melindungi orang yang memiliki lingkaran keberuntungan" Omelnya, dia benar-benar merasa kesal dan tidak adil terhadap kebijakan sistem. Sepersekian detik kemudian terdengar ledakan pistol dari ruangan tersebut.
Jiwa milik Seokie kembali mengambang di ruang putih itu, rasanya dia ingin marah dan menyumpah serapahi Kosmos dengan sistem kejamnya.
"Aku ini sebenarnya orang baik kan?, Aku tidak mau menyakiti orang lain tapi Kosmos menyuruhku untuk melakukan itu" Dia berujar sedih, menarik kedua lututnya dan membenamkan kepalanya disana. Mulai mempertanyakan kenapa sistem begitu kejam terhadapnya.
Dia lahir diruang putih ini tanpa tahu apa-apa, dia bahkan tak tahu siapa itu Kosmos yang sering dia panggil bahkan dia tak tau mengapa kehidupannya seolah berbeda dari orang-orang yang dia temui di setiap dunia.
"Aku ini siapa? Aku ini apa" Perasaan aneh itu kembali menggerogoti dirinya. Seokie mulai mempertanyakan eksistensinya.
Dia menghabiskan waktu dengan duduk diam diruang putih itu, dia merasa ada yang aneh karena dia tidak diberi misi baru sejak misinya dari dunia terakhirnya. Dia merasa seolah dia telah menunggu sangat lama.
"Apakah Kosmos marah padaku, sehingga aku tidak diberi misi lagi?" Seokie berujar dengan panik.
"Harusnya aku tidak bertanya yang aneh-aneh tentang diriku, aku yakin semua orang sama sepertiku, atau mungkin sistem sedang ingin aku beristirahat" Dia meyakinkan dirinya bahwa semuanya baik-baik saja.
Layar lebar yang membawakan sebuah kisah perjalanan hidup seseorang muncul didepannya, Seokie menarik nafas lega karena itu tandanya dia akan memperoleh misi. Tapi anehnya gambar-gambar yang membentuk serangkaian film itu seolah rusak, bisa terputar kebelakang atau bahkan melompati beberapa adegan, garis-garis hitam memenuhi layar seperti siap mati kapan saja.
Seokie sudah siap untuk Kakuk ke worm hole ketika lubang yang baru terbuka sedikit itu kembali menutup.
"Ada apa ini? Dulu juga pernah terjadi hal yang mirip seperti ini tapi tidak separah ini" Keningnya mengkerut mencari-cari jawaban dari Kakalah yang terjadi.
Di tengah kesibukannya berfikir ruangan putih itu bergetar hebat seolah ada yang mengguncangnya. Seokie merasa panik dan ketakutan tapi rasa takut itu sirna ketika dia melihat sebuah worm hole terbuka dihadapannya tanpa pikir panjang segera dia Kakuk kedalamnya.
Kehidupannya di dunia baru itu tak berjalan dengan semestinya, waktu berjalan seolah lebih lambat dan kadang perintah yang diberikan sistem padanya tidak terbaca. Tubuhnya juga seperti tidak memiliki daya, jalan cerita hidupnya juga datar-datar saja, Seokie bingung dengan misinya di dunia itu.
"Huh, apa yang harus aku lakukan sekarang?" Dia berbicara dalam hati, tentu saja karena sistem tidak mungkin memperbolehkan dia mengeluarkan pikirannya.
Saat ini Seokie hanya diam mematung ditaman, seorang pria tinggi didepannya tengah marah hebat kepadanya tapi ucapan pria itu terdengar tidak jelas atau bahkan kadang berulang pada kalimat yang sama.
Tiba-tiba ada peluru melesat kencang ke arah pria didepannya sistem segera menggerakkan tubuhnya untuk menghalau peluru agar tak mengenai pria itu. Saat peluru itu berjarak beberapa milimeter dari tubuhnya tiba-tiba waktu terputar mundur ke adegan dimana pria itu memarahinya. Adegan kembali terulang tapi kini ada seseorang yang ingin menusuk pria itu dengan pisau bukannya peluru yang melesat.
"Awas pak, ada orang yang ing-ingin menu-men-menusukmu" Seokie berucap dengan terpatah-patah, karena perintah sistem yang tidak lengkap Kakuk kedalam otaknya.
Tapi secara tiba-tiba semuanya berjalan mundur, waktu terputar kebelakang dengan cepat. Saat waktu terhenti Seokie menyadari bahwa dunia disekitar terurai, gedung-gedung, bangunan, dan benda-benda disekitarnya runtuh atau hancur.
"Ada apa ini?" Dengan nada terkejut dan panik ia mulai memandangi tangannya yang terurai menjadi data-data. Tubuhnya perlahan terurai menjadi huruf-huruf kecil dan terbang dalam ruang hampa.
∆
Dalam sebuah ruangan yang temaram seorang pemuda berusia kisaran 19 tahun tengah tertidur di depan komputernya yang menyala. Dia tidak menyadari bahwa kakak laki-lakinya meKakuki ruangan.
"Eh, bangun Jung. Jangan tidur sambil duduk nanti punggungmu sakit" Mendengar ada suara yang mengganggunya, pemuda yang dipanggil Jung itu terbangun.
"Iya Kak Moon, ada apa?" Dia bertanya dengan suara serak khas bangun tidur.
"Tidak ada, Kak hanya menyuruhmu untuk tidur dikasur kalau kau tidur sambil duduk seperti ini nanti badanmu pegal-pegal semua" Orang yang dipanggil Kak Moon itu menjawab sambil mengelus rambut pemuda Jung.
Moon melihat kearah layar komputer yang Kakih menyala kemudian bertanya "Sudah dapat ide lagi mau menulis cerita apa?"
"Belum Kak, aku Kakih bingung.
Tadi aku saja menghapus cerita milikku, aku baru merasakan writer block seluar
biasa ini. Aku sampai stress rasanya" Jung menjawab dengan tidak semangat.
"Itu mungkin karena kamu tidak mengganti tokoh, kamu terlalu suka terhadap karakter Seokie yang kamu buat" Sahut Moon.
"Ya makanya Kak, aku tadi baru saja menghapus salah satu projek cerita yang menggunakan karakter Seokie. Karena aku sudah tidak menemukan inspirasi lagi untuk melanjutkan ceritanya" Ekspresi lesu menghiasi wajahnya, seakan dia tidak rela.
"Ya tidak Kakalah siapa tau dengan mengganti tokoh kamu bisa menemukan inspirasi yang baru" Moon menjawab dengan yakin pandangan matanya seolah membakar semangatnya dan menambah keyakinan atas keputusannya.
Sampit, 07 April 2020
Komentar
Posting Komentar