PUISI: Terkunci

 Terkunci


Selama bertahun-tahun saya telah berlalu-lalang di rumah ini;  

Saya bisa melihat foto-foto saya masih berjajar rapi dalam lemari kaca

Dan di masa muda, saya mengeruk tanah di halaman depan.  

Di dalam kamar-kamar ini saya memainkan boneka-boneka saya; 

Ibu  telah menua dan membesarkan saya sendiri,  

Ini adalah siklus waktu yang tidak dapat saya bendung.  

Saya melihat Ibu saya mengelus kepala saya sayang di kursi ruang tamu

Saya tidak berpikir dia mendengar curahaan hati saya, tapi wajahnya melunak

Pancaran  matanya teduh, beliau tak pernah mengeluh. 


Ayah  berbisik perlahan kepada saya seolah-olah saya akan pergi.

Ayah mulai  menangis, dan saya bertanya-tanya apa kesalahan saya.  

Saya  mencoba mendekapnya, atau menyentuh bahunya,  

Ayah semakin menggigil, membiru dan dunia saya membeku.  

Saya mencoba membantunya, tapi hanya rintihan yang terdengar.

Saya memberi tahu dia setiap hari betapa saya mencintainya,  

Kami memiliki banyak hal untuk ditemukan tapi waktu enggan berteman.

Beliau  tampaknya menjadi buta, karena beliau melihat menembus saya.  

Saya terkunci di rumah ini dan beliau memegang kuncinya.  


Halaman depan mulai ditumbuhi semak belukar.  

Saya sangat merindukannya. Setiap ruangan menyimpan kenangan.  



Yogyakarta, 10 Desember 2021





Komentar

Postingan Populer