ESAI: REVITALISASI JALUR REMPAH SEBAGAI DIPLOMASI BUDAYA UNTUK MENGUATKAN KEDUDUKAN INDONESAI SEBAGAI POROS MARITIM DUNIA

 Indonesia merupakan tempat lahirnya rempah yang akan menjadi komoditi dunia rempah-rempah yang berasal dari Indonesia menjadi gaya hidup dan membawa nilai pada dunia global. Pada masa lampau rempah sama halnya dengan emas atau logam mulia bahkan  memiliki harga yang lebih tinggi. Para penjelajah samudra memerlukan peta dalam  mencapai Indonesia jalur kedatangan mereka inilah yang kemudian disebut dengan jalur rempa,  sebuah jalur diplomasi dan tempat pertemuan budaya yang menempatkan nusantara sebagai poros maritim dunia. Melihat kejayaan masa lalu yang Indonesia alami karena adanya Jalur Rempah, oleh karenanya Jalur Rempah memerlukan adanya revitalisasi sebagai modal pembangunan berkelanjutan, merekonstruksi Jalur Rempah sebagai model dalam diplomasi budaya Indonesia untuk menguatkan kedudukan Indonesia sebagai negara poros maritim dunia. Kita bisa melihat dari keberhasilan  Republik Rakyat China dengan Jalur Sutra yang menghubungkan dataran Cina dan Eropa, dengan ini  bukan tidak mungkin Indonesia dapat mengikuti jejak dari Cina untuk merekonstruksi kembali jalur perdagangan  yang pernah ada pada masa lampau. \


Dalam arsip VOC juga memuat tentang adanya berita Jaalur Rempah,  hal ini menguatkan persepsi bahwa tidak mustahil bahwa dengan rekonstruksi Indonesia dapat menjadi poros maritim dunia seperti pada masa lampau dengan kondisi astronomis dan geografis Indonesia yang terletak di antara dua samudra dan dua benua benar-benar sangat mendukung ide tersebut. Pembangunan Indonesia dengan menjadi poros maritim dunia akan memudahkan Indonesia dalam membangun  bangsa karena proses distribusi perdagangan dunia yang bertitik pusat di Indonesia dapat meningkatkan devisa negara, selain itu Indonesia akan menjadi rumah dari pertemuan berbagai budaya dari berbagaia bangsa. Hal ini tentu saja menjadi faktor pendukung keberhasilan  rekonstruksi dan revitalisasi  sebagai kekuatan diplomasi budaya.


Kita kerap kali mendengar sebutan Jalur Sutra untuk mengklaim jaringan perdagangan baik itu jalur darat maupun laut. Padahal Indonesia memiliki jalur perdagangannya sendiri mungkin inilah simptom dan bagi masyarakat Indonesia dimana kita lebih terpengaruh dengan budaya luar sehingga perspektif kita dalam memandang budaya dan sesuatu secara tidak sadar dipengaruhi oleh perspektif luar . Selain itu penyebutan Jalur Rempah pun sangat jarang untuk digunakan. Keadaan pun tidak banyak berubah masyarakat masih lebih mengenal Jalur Sutra daripada Jalur Rempah namun seiring dengan perjalanan waktu masyarakat semakin sadar akan pentingnya laut sebagai integrator Nasional. Indonesia merupakan sebuah negara kepulauan yang dari satu pulau ke pulau lainnya dihubungkan oleh lautan cara pandang dan lambatnya kesadaran masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan Jalur Rempah juga berdampak pada lambatnya pengembangan jalur maritim dan  revitalisasi Jalur Rempah. Jalur Rempah merupakan jalur warisan leluhur yang berasal dari nenek moyang kita jika kita tidak mengembangkan  dan  melestarikan maka tidak mustahil bahwa untuk selamanya Jalur Rempah hanya akan menjadi jalur masa lampau yang tidak bisa direkonstruksi ataupun direvitalisasi.


Kita bisa mengambil contoh dari Republik Rakyat Cina pemilik dari  Jalur Sutra, Cina menggunakan justifikasi sejarah untuk melakukan ekspansi sebagai kekuatan adidaya. Berkaca pada hal ini kita harus harusnya bisa mengembangkan Jalur Rempah untuk menjadi media diplomasi kebudayaan kita pada saat ini. Menggunakan sejarah sebagai wahana diplomasi budaya bukan lagi suatu hal yang tabu namun suatu keharusan karena bagaimanapun juga sejarah merupakan bagian dari  perkembangan bangsa. Sejarah tidak selalu bergerak maju namun kadang berputar hanya saja dengan tokoh dan juga waktu yang berbeda. Kita bisa mengulang kejayaan masa lalu dengan  revitalisasi Jalur Rempah, warisan budaya bangsa untuk mengembalikan kejayaan rempah Indonesia maka diperlukan gerakan reformasi pembangunan rempah dimulai dari tingkat kabupaten atau kota. Dengan memproyeksi rekonstruksi dan rempah khas daerah masing-masing dalam upaya mendukung kembali Indonesia sebagai poros maritim dunia seperti masa lampau ini bisa dimulai dengan memperhatikan potensi dan kekhasan daerah masing-masing dengan memberdayakan pelaku usaha, perusahaan jamu, dan obat tradisional dalam rangka membumikan Jalur Rempah di tengah masyarakat.


Penyebaran informasi tentang Jalur Rempah juga harus dilakukan secara masif dan juga berkelanjutan. Karena bagaimanapun juga ketidaktahuan masyarakat Indonesia tentang keberadaan Jalur Rempah mempengaruhi lambatnya perkembangan Jalur Rempah  maka diperlukan dukungan dari segala elemen masyarakat. Mengajarkan keberadaan Jalur Rempah dalam Kegiatan belajar mengajar juga  diperlukan karena banyak pelajar di Indonesia lebih mengenal Jalur Sutra daripada Jalur Rempah. Indonesia kaya akan rempah-rempah dan hal ini dapat menjadi kekuatan tersendiri. Namun, jika Pemerintah Daerah tidak mengembangkan potensi daerahnya masing-masing secara merata dengan memprioritaskan rempah hasil daerahnya maka rekonstruksi ini akan memakan  waktu yang cukup lama dan tidak menyeluruh. Pemerintah daerah dapat menilai mana yang ingin dijadikan komoditi rempah utama berdasarkan pada komoditi yang mencakup hajat hidup orang banyak dan mempunyai nilai ekonomi tinggi.


Jalur Rempah yang berakar dari Indonesia yang selama ini banyak dilupakan oleh masyarakat dan hanya diceritakan lewat buku-buku sejarah. Keberadaan Jalur Rempah sejak dahulu kala merupakan bukti kekayaan budaya Indonesia yang harus diberdayakan dan dibudidayakan karena Indonesia memiliki banyak kekayaan rempah-rempah yang bisa dijadikan komoditas global. Jalur Rempah merupakan jalur yang bersejarah yang menghubungkan berbagai negara dan melibatkan beragam budaya tidak hanya sampai ke ujung Sumatera melainkan hingga Afrika. Ini dapat menjadi upaya untuk meningkatkan kekuatan diplomasi budaya dalam memperkukuh kedudukan Indonesia sebagai poros maritim dunia.  Sejak tahun 2017 , Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah mengusulkan Jalur Rempah sebagai warisan dunia ke UNESCO. Hal ini didasari oleh pemahaman bahwa Jalur Rempah adalah jalur pertukaran budaya dan pengetahuan yang tidak terbatas pada konteks ruang dan waktu dan dapat dilihat sebagai jalur budaya dan memiliki peluang yang besar untuk menjadi warisan budaya dunia.


Sejarah Jalur Rempah dari waktu ke waktu menjadi bukti nyata bahwa diplomasi budaya telah menjadi praktek baik dari ini individu, masyarakat komunitas, maupun negara hingga tingkat bangsa. Jalur Rempah sudah menjadikan Indonesia daerah strategis pada jalur perdagangan global yang mana memungkinkan hubungan dan pertukaran nilai-nilai social,  penyebaran agama, dan persilangan budaya, kesenian sastra, pangan, dan sebagainya. Perdagangan rempah Nusantara sudah menjadi komoditas primer yang mempunyai dampak luas pada politik, ekonomi, dan sosial budaya  pada skala global. Kita seharusnya bisa memanfaatkan secara penuh keberadaan Jalur Rempah ini untuk kepentingan pembangunan bangsa untuk masa kini maupun masa mendatang .  Melihat hal ini tentu tidak aneh jika kita menjadikan Jalur Rempah sebagai acuan dalam melakukan diplomasi budaya dengan mengedepankan interaksi dan juga dialog dari berbagai lapisan masyarakat.  Rempah dapat menjadi  bukti bahwa ada kemungkinan kerjasama antar bangsa dan antar negara untuk mewujudkan rasa persaudaraan dan juga perdamaian dunia dengan mengutamakan keselarasan budaya dan pengakuan serta penghormatan atas tradisi warisan nenek moyang dengan semangat keadilan,  menjungjung harkat dan martabat saling tolong-menolong dan berkontribusi serta kesetaraan.


Dengan dilestarikan dan diberdayakan serta dibudidayakannya Jalur Rempah merupakan itikad baik Bangsa Indonesia dengan memuliakan masa lalu untuk kesejahteraan masa depan. Menjadikan Jalur Rempah sebagai wahana diplomasi budaya untuk menguatkan kedudukan Indonesia sebagai negara poros maritim dunia. Indonesia sebagai poros maritim dunia memang suatu hal yang sangat luar biasa dan juga membanggakan bagi bangsa namun di lain sisi yang menjadi tujuan utama dari revitalisasi ini adalah untuk mengajarkan kepada generasi muda bahwa  Jalur Rempah adalah warisan budaya bangsa yang telah membentuk peradaban Indonesia. Mengenang Jalur Rempah  ini bukan masalah meromantisasi sejarah Namun memaknai dan memanfaatkannya untuk meningkatkan kreativitas dan inovasi dalam mengembalikan kejayaan Indonesia untuk masa kini dan masa yang akan mendatang. Hal ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran dari bangsa Indonesia bahwa perjumpaan orang-orang di pelabuhan dalam kesempatan pertukaran informasi, tradisi, seni, dan pengetahuan dalam jangka waktu yang panjang dapat mengubah karakter individu dan kelompok sehingga membentuk suatu kesatuan budaya yang baru dan menjadi peradaban yang lebih maju.


Dengan merevitalisasi Jalur Rempah merupakan sebuah gerakan dalam dimensi yang luas untuk menyadarkan masyarakat dalam merawat warisan persatuan, dan kesejahteraan rakyat dengan memperkuat fondasi diplomasi budaya bangsa Indonesia. Jalur Rempah pada saat ini perlu diwujudkan secara bersama-sama mencapai ranah-ranah aspek kehidupan yang belum tersentuh sebelumnya.  Jalur Rempah memberi wadah untuk  berkontribusi dalam menyelesaikan segala masalah kontemporer seperti ketahanan pangan pengentasan kemiskinan kesetaraan gender dan tantangan lainnya. 



REFRENSI


Jalur Rempah. 2021. “Jalur Rempah: Memuliakan Masa Lalu untuk Kesejahteraan Masa Depan”, https://jalurrempah.kemdikbud.go.id/artikel/jalur-rempah-memuliakan-masa-lalu-untuk-kesejahteraan-masa-depan , diakses pada 18 September 2021 pukul 16.20

Media Indonesisa. 2021. “Diplomasi Jalur Rempah di Kancah Dunia”, https://epaper.mediaindonesia.com/detail/diplomasi-jalur-rempah-di-kancah-dunia, diakses pada 18 September 2021 pukul 16.23

Forum Rektor Indonesia. 2015. “Naskah Akademik 2015”, http://fri2016.uny.ac.id/sites/fri2016.uny.ac.id/files/2.%20NASKAH%20AKADEMIS.pdf, diakses pada 18 September 2021 pukul 16.25

Komentar

Postingan Populer