CERPEN: Fiksi Sejarah "Rantai Impian"

 Rantai Impian

By Magnolia Putih


Anak laki-laki itu berdiri tegap memandang ke kejauhan laut yang melengkung, kapal-kapal nelayan menjala ikan di perairan lepas, kecil atau besar semuanya beringas dan ganas berebut hasil kekayaan laut. Semilir angin laut meniup lembut anak rambutnya, gemerisik daun kelapa yang saling bergesekan menyahut silih berganti ditemani gema gelak tawa bocah-bocah kecil yang tengah mengais pasir mencari kerang.

Desember 1942

Payoda gelap menggelayut manja di nabastala menangis keras menumpahkan sebagaian besar uap air yang menjadi bebannya, berteriak manja dengan dentuman dan gesekan ion-ion diatas sana membuat cetakan akar-akar yang merambat ke segala penjuru. Dua orang pria  berada diatas kapal mungil terombang ambing diatas lautan, memcoba membelah ganasnya perairan,

Splash, bunyi air yang mengenai badan kapal kian besar, kapal itu terhuyung-huyung kesulitan mencari keseimbangan.

“Tuan, tak usah memasang wajah cemas setidaknya kita mati dimakan ikan. Tidak sia-sia” ucap salah seorang dari pria itu, dia mengenakan kaos polos dengan topi bundar kecil. Wajahnnya penuh dengan senyuman walaupun jarum-jarum air menusuk-nusuk wajahnya.

Pria yang satunya tak menyahut dan memandang pria itu dengan tatapan yang sulit diartikan. “Nikmati saja Tuan, belum tentu kita bisa melihat matahari lagi setelah badai ini” Pria itu kembali bersuara, kini diakhiri dengan kekehan.

Ombak besar menerjang keduanya membalikan kapal kecil itu, dia tenggelam tanpa perlawanan pusaran air menarik ujung kakinya menuju dasar, tangannya menggapai-gapai udara kosong meraup mencari sesuatu untuk dipegang. Namun nihil, air yang ia genggam hanya mengalir begitu saja, diantara keruhnya air dia melihat tangan seseorang mencoba meraihnya.

Ketika telah sampai dipermukaan dia langsung disambut dengan senyum lebar pria itu, “Tuan Soerjiman, apakah anda perlu saya ikat bersamaan dengan barang bawaan anda? Hanya agar anda tidak terlempar dari kapal nelayan ini.” Ucapnya sambil menarik Soerjiman naik kembali ke atas kapal.

“Sepertinya Tuan terlalu banyak minum air laut” nelayan itu kembali bersuara ketika dilihatnya Soerjiman hanya memasang wajah linglung seolah pikirannya kosong. “Tapi jangan risau Tuan, karena kita sudah sampai”

Dapat Soerjiman lihat didepannya terpampang jelas garis pantai panjang dengan hutan bakau yang bergerombol di satu sisi dan sisi lainnya adalah dermaga penuh kapal barang yang tengah bersandar. Ketika akhirnya kapal itu berlabuh didengarnya dengan jelas tangisan pilu seorang wanita tua.

“Anakkku tadi pergi melaut ketika badai.” Jerit seorang wanita tua, orang-orang berkerumun mencoba menenagkannya, Soerjiman memandangi keadaan tersebut sampai seseorang mengintrupsinya dengan tepukan di pundak.

“Tuan Soerjiman?” mendengar pertanyaan itu Soerjiman membalasnya dengan anggukan.

Orang itu terlihat tengah menelisik penampilan Soerjiman yang terlihat berantakan, dengan jas formal yang basah dan kotor bahkan di rambutnya tersemat entah benda penjang menjijikan lembek apa itu, terlihat seperti dedaunan yang telah membusuk atau mungkin juga tali tambang kapal yang telah lama tereduksi waktu.

Setelah meyakinkan dirinya bahwa dia menjemput orang yang tepat orang itu melebarkan senyumnya, “Mari Tuan saya akan tunjukan kepada anda kediaman yang akan anda sewa.”

Kini Soerjiman berdiri dihadapan sebuah rumah panggung yang sebagian kaki-kaki rumahnya tergenang air. Rumah itu terlihat kumuh dan berantakan, halamannya penuh dengan daun-daun gugur dan juga terlihat atap daun sirapnya mulai mengelupas. Dia bahkan tidak yakin kalau pintunya memiliki kunci.

Klatak…!!!

Betapa terkejutnya dia ketika melihat seekor bekantan berayun diatas rumah. Dia pun langsung menatap ke arah orang yang akan menyewakan rumah itu padanya.

“Tenang Tuan, mereka tidak berbahaya” Soerjiman hanya balas menangguk.

“Apa harga sewanya tak bisa kurang?”

“Saya pastikan Tuan tak akan mendapat harga sewa rumah yang lebih murah lagi, saya menerima surat Tuan dari 6 bulan yang lalu, saya sudah mencari harga sewa paling murah dan ini adalah yang paling murah. Jika Tuan berkenan bolehkah saya tahu hendak membangun apakah Tuan di sini?”

Soerjiman menarik kedua ujung bibirnya tipis dengan ucapan sehalus lembayung senja dia menjawab, “Klinik, saya ingin membuka klinik di sini.” Soerjiman memandang ke arah orang itu dengan tatapan mengiba. “Apa harganya tidak bisa dinegosiasikan lagi?”.

“Ah, Tuan janganlah seperti itu. Hunian asri, jauh dari binatang buas dan pastinya dengan lokasi sangat strategis. Saya tanggung Tuan tidak akan menyesal.” Orang itu menanggapi dan diakhira sedikit kekehan kecil, kedua sudut bibir Soejiman bergetar geli.

“Semoga Tuan berhasil, orang-orang disini ramah dan pandai. Tuan tak akan menyesal membuka klinik disini” Soerjiman tidak menyahut dan hanya memandang orang itu melihat tidak ada tanggapan orang itu kemudian berdehem canggung, “Ekhm, sebenarnya beberapa waktu ini angka kematian sangat tinggi karena sebuah wabah.”

“Wabah? Ah, maksudnya penyakit cacar.” Soerjiman menyahut dalam hati sambil tersenyum dalam diam.

Keesokan harinya saat baskara terik bersolek di angkasa terdengar ribut-ribut kecil di rumah pinggir pantai itu.

“Ayolah Nyonya Andinie adalah satu-satunya harapan saya, taka da lagi orang yang bisa saya harapkan selain anda. Kita buka tiga praktik untuk permulaan hanya untuk mengenalkan masalah kesehatan kepada penduduk. Anda satu-satunya lulusn STOVIA di pulau ini.”

 “Mohon maaf Tuan tapi sekali tidak tetap tidak” Nyonya Andinie berdiri merapikan rok yang dia kenakan, “Semoga beruntung dengan ide gila anda ini Tuan.” Dengan salam perpisahan Nyonya Andinie pun beranjak pergi menuruni anak tangga rumah panggung itu.

“Dasar orang gila pemaksa” gerutu Nyonya Andinie yang didengar oleh seorang anak laki-laki yang sedari tadi mengamati dari balik semak belukar.

“Wah, orang gila. Pasti itu adalah orang yang memiliki rencana jahat” gumam anak laki-laki itu yang kemudian melesat pergi, berlari mengikuti arahan angin menuju pasar.

 Bau amis menyeruak menusuk indra penciuman, bau-bau anyir dan busuk menyerang kepala hingga terasa pening, anak laki-laki tadi menengokkan kepalanya kesana kemari mencari seseoramg.

“Kakak!!!” teriaknya nyaring sambil melangkahkan kakinya tergesa-gesa ke arah orang itu.

“Nyonya bukankah hitungannya harusnya kembali enam gulden bukan sepuluh? ” orang  yang dipanggil anak laki-laki itu terlihat sibuk melayani para pembeli. Matanya semakin menajam ketika menimbang beberapa kilo buah, “Tuan, mohon maaf, tapi ini timbangan baru saya tidak begitu paham menghitungnya. Jadi saya akan jual buahnya perbiji saja”

Setelah sedikit lengang barulah sang kakak menghadap kearah adiknya, “Ada apa Noer? Jangan berteriak-teriak, peka’ telinga kakak mendengar suaramu.”

“Kak, orang berpakaian bagus yang datang beberapa waktu lalu itu ternyata adalah orang jahat” Noer berucap dengan menggebu-gebu dengan sebelah tangan meremas tebu yang tadi disesapnya.

“Dari mana kamu tahu kalau Tuan itu adalah orang jahat?” Kakaknya terlihat bingung memandang Noer dengan pandangan menelisik, wajahnya yang nampak pucat mencoba terlihat garang di hadapan Sang Adik.

“Tadi aku memata-matai rumah Tuan itu, aku dengar Nyonya Andinie bahkan mengumpat mengatai Tuan itu orang gila.” Noer sibuk menjilati air tebu yang mengalir ditangannya hingga tidak sadar bahwa sang kakak sudah mentapnya tajam.

“Aduh.” Noer mengaduh ketika kakaknya menampar keras lengan atasnya.

“Ayo kita pergi minta maaf pada Tuan itu, perilakumu itu sangat tidak sopan dan tidak patut dilakukan. Ayo sekarang kita pergi meminta maaf.”

Sesampainya kedua bersaudara itu di rumah Soerjiman, Sang Kakak mencoba mengetuk pintu. Dua, tiga kali dia mengetuk tidak ada sahutan barulah saat ketukan keempat terdengar suara bedebam pintu dari dalam rumah disusul dengan suara langkah kaki cepat ke arah pintu depan.

“Permisi Tuan, saya ingin meminta maaf karena adik saya memata-matai kediaman Tuan dan dia mengatai Tuan orang jahat.” Soerjiman tersentak ketika mendengar suara itu tepat ketika dia membuka pintu, dia hanya balas dengan mengulum senyum.

“Tidak masalah Nona.” Ketika pintu rumahnya tebuka lebar terlihat bahwa Noer mencoba melihat ke dalam menyadari hal itu sang Kakak memukul kepalanya.

“Mau masuk ke dalam?” Tawaran itu serta merta diangguki oleh kedua bersaudara. Maka dipersilahkanlah kedua orang itu masuk mereka nampak penasaran dengan alat-alat kesehatan yang terdapat di dalam rumah.

“Saya baru saja pindah kemari beberapa waktu lalu, saya berniat membuka klinik kesehatan disini. Saya bukan orang jahat, saya ingin mengobati orang-orang sakit.” Soerjiman berusaha menjelaskan posisinya agar kedua anak itu tidak salah paham, kedua anak itu hanya memandanginya dengan tatapan polos yang membuat Soerjiman salah tingkah. Setelah puas melihat-lihat dan bertanya berbagai hal Noer dan Sang Kakak memutuskan untuk pulang.

Hari mulai gelap, matahari sore yang seharusnya berpendar di ufuk barat tertutup gumpalan payoda abu-abu berat, langit berteriak menggelegar dibumbui dengan angina ribut yang menerbangkan berbagai hal bahkan mampu mematahkan segalanya, tapi tidak dengan semangat Noer untuk menembus badai menuju rumah   Soerjiman agar menolong kakaknya yang sekarat, entah mengapa kakaknya tadi tiba-tiba sesak nafas dan demam tinggi sekujur tubuhnya dipenuhi ruam-ruam merah yang bernanah, gejala ini sudah nampak dari kemarin, mereka pikir nanti akan membaik sendiri ternyata malah semakin parah. Setelah sampai di rumah Soerjiman dengan basah kuyup dan terluka karena terkena benda-benda yang dihempaskan oleh angin dia segera menarik Soerjiman ke rumahnya tanpa peduli dengan peampilan Soerjiman yang masih acak-acakkan karena terbangun dari tidurya.

Sesampainya di rumah Noer, Soerjiman berusaha memberi pertolongan tapi semuanya terlambat ditambah lagi dia datang dengan perlengkapan dan obat-obatan kedokteran yang tak lengkap. Melihat tubuh kakaknya tak bergerak lagi dan wajah soerjiman yang lesu Noer berteriak marah dan mulai memukuli dokter itu, dia merasa kecewa dan dibohongi. Soerjiman merasa semuanya gelap, dia gagal, gagal menyelamtkan pasien pertamanya di pulau itu.

Telinga Soerjiman berdenging dalam keheningan dia tak sepenuhnya sadar jiwanya diselimuti kesedihan dan penyesalan. Hingga tiba-tiba sebuah peswata tempur melintas diatas mereka membawa berton-ton bubuk mesiu menjatuhkan bahan-bahan peledak ke pemukiman, huatan, huta dan segara penjuru seketika suara pekikikan kesakitan dan ketakutan bergema dimana-mana.   Mobil Jep berdatangan emmbawa orang-orang bersenjata, suara ledakan dari kilang-kilang minyak menambah rasa mencekam dan menjadikan suasana layaknya neraka. Lambing bundar berwarna merah dengan garis di penjurunya menghiasi otomotif-otomotif itu, bendera mereka berkibar diterpa angin menampakkan kepongahan.

Nippon…” Batin Soerjiman

Tanpa piker panjang ia segera memeluk Noer sebelum ledakan besar menghempaskan mereka, paangan soerjimana mulau mengabur, dia hanya dapat dengan sayup-sayup mendengar Noer berteriak dan meronta ketika tubunya berada dalam lengan seorang prajurit.

 Desember 1955

Pemuda itu berdiri menghadap kelaut, bau asin mengudara disekitarnya, inatan masa lalu menghantamnya bagai ombk pasang. Semua kenangan tentang Sang Kakak dan juga Dokter Soerjiman mengambang dalam anganngay.

“Dok, ada pasien di klinik anda. Sepertinya anak itu terkena muntaber.”



Komentar

Postingan Populer