CERPEN: Tentang Kita dan Sekitar "Mahkota Untukmu"
Mahkota Untukmu
By Magnolia Putih
Kakinya menapak kian cepat, berlari laksana kilat. Suara tawa silih berganti bersahutan dari bibir-bibir mungil mereka, senyum merekah bak mawar merah yang tersiram madu. Jiwa-jiwa suci yang tak menegerti betapa sadisnya dunia ini, diri mereka yang polos yang tak tersentuh polusi hingar binger dunia.
“Ayo, tangkap aku.” Salah seorang dari mereka terpekik bahagia.
Tapi itu semua seketika buyar ketika dilihat oleh mereka sesosok wanita berdaster datang dengan membawa ssapu lidi yang terlihat using, wajahnya tertekuk tak enak dipandang.
“Mahdi, ayo pulang jangan asik kamu bermain!” Perintahnya tegas dengan suara menggelegar memecah tawa anak-anak itu.
“Iya Bu, sebentar lagi. Ini masih asik loh” Mahdi menjawab dengan wajah kesal dan nada bicara yang merajuk.
“Main terus yang ada di kamu pikirkan, nilai matematika tak perlah lewat 60, pelajaran IPA amit-amit jabang bayi. Disuruh belajar malah main.” Omel sang ibu pada anaknya, Mahdi.
“Iya Bu, ayo, ini suadah, ayo pulang.” Setelah mengatakan itu Mahdi pulang kerumah dengan menghentak-hentakkan kakinya, tak terima.
Sesampainya di rumah Mahdi bergegas memasuki kamarnya dengan perasaan marah,kesal, sebal yang bercampur aduk dengan sedih.
“Ibu itu nggak ngelarang kamu main. Cuma, lihat waktu, ingat belajar” Ibunya tak masuk kedalam kamar dan hanya berbicara di depan pintu.
Mahdi hanya diam dan tak menyahut, tapi dalam hantinya dia memiliki banyak keluhan tentang hal itu dan merasa tertekan akan semua tuntutan yang dibebankan orang tua pada dirinya.
Dia pun mengambil selembar kertas HVS dan mulai menggores pena diatasnya, membuat sketsa kasar tentang sesosok mahluk bersayap yang tengah duduk diatas sebongkah batu dengan tangan mencoba menggapai langit. Setelah puas dengan sketsanya dia pun mulai menarikan spidol, pensil warna dan krayon ke atas sketsa itu.
Nampaklah gambar yang dia buat adalah sosok Lucifer sang malaikat yang jatuh tengah berada di atas batu karang ditengah lautan. Sebuah gambar penuh kesedihan yang menggambarkan keterasingan, ketika ia tengah menghayati gambar miliknya tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dengan keras menampilakan sosok pria tinggi yang memandangnya penuh amarah, di tangannya memegang selembar kertas jawaban yang terbubuhi nilau 50 berwarna merah. Melihat hal itu insting ketakukan Mahdi bangun, dia meringkukkan badannya seolah membentuk pertahanan.
“Nilai macam apa ini?!” Bentak pria itu yang tak lain adalah ayahhya, “Mau jadi apa kamu dengan nilai matematika serendah ini? Bodoh jangan dipelihara!” Ucapnya dengan amarah yang makin membabi buta.
“Tapi kan Yah, nilai seni budaya dan pengetahuan sosialku bagus” Dengan mengumpulkan semua keberaniannya dia mencoba membela diri.
“Seni budaya itu tidak penting, pengetahuan sosial memnag apa gunanya? SMA nanti kamu mau masuk jurusan IPS? Mau jadi berandalan?” Suara ayahnya kian meninggi.
Dia tak berani lagi menjawab dan hanya terdiam tanpa melakukan apa-apa. Tanagn ayahnay bergerak merampas gambaran yang baru saja dia buat, dengan tanggap dia menahan tangan ayahnya melihat hal itu sang ayah semakin terbakar emosi.
“Berikan gambaranmu sekarang!” perintah Sang Ayah mutlak tanpa bisa ditawar lagi.
Dengan hati tak rela dia melepaskan tangan ayahnya dan memberikan gambaran yang baru saja dia buat. Secara langsung gambaran itu pun robek tak beraturan, potongan-potongan kertas jatuh satu persatu mengotori ubin putih.
“Bakatmu itu sangat tidak berguna, cobalah untuk belajar dan hentikan semua kegiatanmu untuk melakukan hobimu yang sia-sia ini, apakah kamu piker dengan bakat menggambarmu ini kamu bisa menjadi PNS? Menjadi dokter? Tidak kan? Jadi hentikan semua itu dan fokus pada les yang kamu ikuti” setelah wejenang panjang itu Sang Ayah keluar dari kamarnya.
Mahdi hanya bisa duduk lemas dan tak tahu harus berbuat apalagi, dari sudut matanya dia dapat melihat Sang Ibu bersandar di daun pintu sambil menatapnya.
“Mahdi, dengarkanlah kata ayahmu kami hanya ingin yang terbaik untuk dirimu, tolong mengerti.” Suara lembut yang harusnya menenangkannya kini malah terdengar menyebalkan, “Jangan menangis itu memalukan, kamu itu laki-laki akan jadi pemimpin tidak elok rasanya kalau kamu suka menggambar ataupun melukis, itu tidak keren.” Sambung ibunya dibubuhi candaan di akhir dengan maksud mencairkan suasana.
Setelah mengatakan hal itu ibunya meninggalkan dia sendiri di dalam kamar, kini hanya tersisa dirinya dan potongan-potongan kertas yang berserakan.
“Huh, laki-laki tidak boleh menangis? Budaya patriarki yang masih dianut oleh orang-orang tua itu.” Tangannya bergerak untuk mengumpulkan potongan-potongan kertas yang tadi berserakan.
Bukankah sekarang ada kesetaraan gender?
Bukankah manusia sudah berevolusi menjadi manusia modern?
Lalu mengapa toxic masculinity masih dipraktekkan hingga saat ini? Padahal perang dunia sudah berakhir.
Diambilnya seluruh sketchbook yang dia miliki, buku sketsa yang berisi semua imajinasinya, tempat ia menuangkan perasaannya, tempat dia berkeluh kesah. Dia membawa semua buku itu keluar dari kamar, diperjalanannya ia mendapati Sang Ayah tengah duduk di kursi ruang tamu sambil mengetik sesuatu di gawainya.
“Mau kemana kamu?” Tegur Sang Ayah, namun Mahdi memutuskan untuk tidak membayar perhatian pada hal itu dan hanya pergi berlalu begitu saja, tanpa peduli. Ayahnya yang merasa diabaikan pun tak melanjutkan percakapan lagi.
Sesampainya di halaman rumah ia menumpuk kumpulan buku sketsanya dalam tong sampah yang terbuat dari drum. Korek api yang tadi ia bawa pun segera ia nyalakan dan disulutnya keujung kertas di buku hingga akhirnya api semakin membesar dan membakar semuanya.
Tiba-tiba Sang Ayah keluar dar rumah sambil bersedekap dan tersenyum miring, terlihat bahwa ia merasa menang diatas anaknya.
“Bagus, akhirnya kamu sadar kalau semua itu adalah sampah.”
“Ayah sekarang puaskan? Semoga ayah bahagia dengan semua ini” Dia mentap ayahnya dengan mata yang sedikit berkaca-kaca, dan bibir yang bergetar.
Mulai hari ini mimpinya dan semua kesukaannya dihancurkan tak bersisa oleh dua orang yang tak lain adalah orang tuanya. Luka yang akan dia ingat sepanjang hidupnya. Karena kehendak orang tua yang dipaksa hanya akan berakhir pada dua hal yakni sukses namun membenci kedua orang tuanya atau gagal dan semuanya berantakan. Mahdi tidak tahu dimanakah dia akan berakhir.
Awan berarak dan langit yang bergerak, matahari dan bulan menari-nari di nabastala. Kegelapan yang menyeruak lalu bagaskara yang timbul tenggelam bersama rembulan. Hari berganti hari dengan kecepatan waktu yang tak kasat mata. Seperti hukum realtivitas Einstien.
Senyum sumringah itu menghilang, digantikan segaris lurus bibir pucat. Mata yang selalu bersinar seperti galaksi kini meredup. Semuanya hilang tenggelam karena satu kata yakni kecewa.
Bukankah salah satu dari 8 funsi keluarga itu kasih sayang, namun terkadang keluarga adalah penjara Azkaban.
Keluarga yang memiliki fungsi perlindungan terkadang malah adalah tempat startegis untuk menyerang.
Keluarga yang harusnya memiliki fungsi edukasi malah memaki dan mencaci.
Rusaknya mental anak sepertinya bukan beban, jika anak berkata bahwa dia stres dikata hanya membual, melapor jika ia tertekan dianggap berlebihan. Lalu, haruskan bkkbn berbenah? Berinovasi lebih jauh untuk melindungi? Program GenRe seolah tak berbunyi, organisasi PIK-R disekolah pun diabaikan. Bukan salah programnya, dinasnya ataupun organisasinya tapi salahkan diri kita yang tak kunjung peduli terhadap orang dilingkungan sekitar.
Dengan semangat yang sudah setipis rambut dibelah tujuh Mahdi akhirnya mencapai apa yang orang tuanya inginkan menjadi lulusan terbaik di SMP-nya, dan masuk ke SMA unggulan yang selalu dieluh-eluhkan orang tuanya. Tapi tak sekalipun dia merasa bahagia akan semua pencapaian itu, hari demi hari yang dia rasakan hanya kebencian yang menggunung pada hidupnya, dan pada dirinya sendiri.
“Mahdi kamu hebat, ibu bangga dengan kamu.”
“Andaikan kamu nurut dengan ayah dari dulu, kamu pasti lebih sukse dari ini. Lihatkan hasilnya setelah kamu buang hobimu yang tidak berguna itu kamu jadi bintang sekolah.”
Dia tak menyahut, tak juga tersenyum. Dia membenci dirinya yang terlalu lemah, jangankan untuk melawan, hanya untuk menangis saja dia tak akan bisa karena toxic masculinity yang masih mendarah daging yang ada pada orang-orang di sekitarnya.
“Kenapa sekarang kamu jadi pendiam sekali?” Ibunya berujar kesal.
“Dia sekarang sudah remaja jadi wajar kalau dia jadi pendiam, laki-laki yang jantan ya seperti itu lebih banyak diam namun banyak bertindak.” Ayahnya menyahut dengan candaan, terlihat sekali beliau kini tengah bahagia dengan kabar bahwa Mahdi masuk ke SMA terbaik di kota dan masuk ke kelas unggulan.
Walaupun pembagian kelas berdasarkan kepintaran dan sebagainya telah dihapus agar tidak ada deskriminasi, namun kenyataannya pemetaam seperti itu kadang terjadi tanpa disadari, bahkan dogma bahwa ruang satu adalah ruang kelas terbaik masih bertahan hingga kini.
Lalu apakah ini bisa dikatakan inovasi pendidikan yang gagal?
Waktu pun berlanjutr seperti biasanya, orang tua Mahdi tak kunjung sadar bahwa ada yang berubah dari perilaku anak mereka selama bertahun-tahun. Orang tuanya bahkan memasukan Mahdi kedalam banyak les mandiri mulai dari tempat les yang memang sudah teruji dan terjamin hingga pada ke guru-guru les rumahan. Tidak ada waktu istirahat untuknya.
Hari itu masih seperti kemarin, Mahdi belajar di ruang kelasnya dengan tenang mendengarkan gurunya yang tengah menjelaskan tentang hukum Archimedes. Hingga tiba-tiba salah seorang guru mengintrupsi dengan suara ketukan pintu yang agak nyaring, menyebabkan seluruh atensi mereka teralihkan.
“Permisi Bu, mohon maaf mengganggu kegiatan belajar mengajarnya. Saya ingin memanggil siswa atas nama Mahdianardi Agrian Yessa dikarenakan ada kabar yang ingin disampaikan dan orang tuanya tengah menunggu.”
“Silahkan Mahdi boleh keluar.”
“Saya permisi Bu”
Setelah keluar dari kelas dan kembali menutup pintu, Sang Guru yang tadi memanggilnya tiba-tiba menggeret tanganya dan mengajaknya duduk di bangku yang tesedia di depan kelas.
Setelah mendudukan diri Mahdi pun memberanikan diri untu bertanya, “Mohon maaf Bu, kalau boleh tahu ada apa ya Bu?”
“Sebelumnya berjanji dengan Ibu kalau kamu tidak akan histeris ataupun shock, karena berita ini mungkin benar-benar akan menjadi mimpi burukmu.”
Mendengar ucapan gurunya yang serius seperti itu dia ikut menegakkan punggungnya dan mengambil nafas dalam untu menetralkan perasaanya. Penasaran berita buruk apakah gurunya maksud.
Apakah dia kalah dalam lomba menulis esai? Padahal dia sudah berusaha keras dalam hal itu?
Ataukah dia tidak terpilih sebagai perwakilan untuk mengikuti pemilhan duta lingkungan tingkat provinsi?
Mungkinkah lomba cerdas cermat 4 pilar yang dia dambakan batal diselenggarakan? Padahal ia sudah mencurahkan semua usahanya.
Tapi pernyatan gurunya sungguh tak sesuai semua ekspektasi yang bersahutan dalam kepalanya.
“Ayahmu baru saja meninggal karena terkena serangan jantung.” Mendengar hal itu Mahdi sedikit terkejut karena bagimanapun juga tak terbesit dalam pikirannya bhawa berita itulah yang akan disampaikan pada dirinya.
“Ah, iya Bu?” Tanya Mahdi memastikan bahwa ia tak salah dengar.
“Dengar Mahdi tetap tenang, semuanya akan baik-baik saja.” Ucap gurunya dengan suara bergetar menahan tangis, rasa empati dan simpatinya yang amat mendalam terekspresikan lewat matanya yang berkaca-kaca.
Di sisi lain Mahdi hanya diam, bukan karena dia terkejut atau semacamnya terhadap berita kematian Sang Ayah. Tapi lebih kepada dia terkejut pada ketenangannya sendiri, bahkan dia tak merasakan apapun pada berita itu. Seolah tak terjadi apa-apa. Dirinya pun merasa tak ingin menangis, dan bahkan dihatinya terdapat sedikit rasa lega karena akhirnya penjara emas yang yang mengukungnya selama bertahun-tahun kehilangan satu gemboknya.
Harta yang paling berharga adalah keluarga, titipan yang tak ternilai harganya adalah anak. Ketika anak-anak sudah kehilangan kepercayaan dan rasa sayang kepada orang tuanya maka eksistensi seorang ibu ataupun ayah akan dipertanyakan dalam kehidupan mereka. Dan orang tua menjadi takbernilai lagi.
Untuk menggapai sesuatu tak perlu mengorbankan perasaan orang lain, terutama anak-anak. Mimpi menjadi pahlawan super pun harusnya dihargai bukan direndahkan ataupun ditertawakan kesana-kemari karena itulah yang disebut dengan rantai mimpi.
Untuk jiwa-jiwa kecil yang berkelip dan bertahan hingga saat ini. Kalian adalah anak-anak dan remaja yang hebat karena mampu melewati hubungan beracun dalam keluargamu, bertahan dalam domestic emotional abuse yang mengerosi dirimu, tetap bertahan dan bahagia, karena kamu lebih indah dari bunga matahari kala arunika menyapa.
Kupersembahkan mahkota untukmu, para pejuang yang tangguh.
Sampit, 19 September 2020
Komentar
Posting Komentar