CERPEN: Kenali dirimu lebih dalam "Debu Kosmik"
Debu Kosmik
By Magnolia Putih
"Nihilisme adalah sebuah pandangan filosofi yang sering dihubungkan dengan Friedrich Nietzsche. Nihilisme mengatakan bahwa dunia ini, terutama keberadaan manusia di dunia, tidak memiliki suatu tujuan." Begitulah isi dari artikel yang baru saja Joon baca. Jujur saja hatinya terasa sedikit terusik ia mulai bertanya terhadap eksistensinya didunia untuk apa dan mengapa.
"Ah...apa sih yang aku pikirkan" Monolognya sambil mengacak rambut. Ia pun beranjak dari tempat ia duduk berjalan kearah parkiran sepeda yang berada di belakang gedung fakultasnya.
"I wanna big house, big cars big ring but sashi-reun i dun have any big dreams..." Senandungnya, tapi dia berhenti ketika dia melihat sederet semut tengah mengangkut makanan mereka.
"Semut saja punya tujuan, punya mimpi. Tidak mungkin kan manusia tidak punya mimpi ataupun harapan" Ucapnya sambil tersenyum simpul.
Bumi adalah debu di antara butiran debu di alam semesta, tapi manusia seakan puas atas penguasaan dirinya mondar-mandir di atas bumi dengan urusan remehnya. Padahal sedikit saja bumi bergeser dari jalur edarnya maka kita mungkin membeku atau terbakar.
Setelah mengambil sepeda miliknya ia mulai mengayuhnya perlahan menuju kearah luar kampus. Untuk pulang tentu saja.
Di depan gapura kampus dilihatnya seorang pemuda berkulit putih tengah menangis, di dorong rasa simpati dan empati dia menghentikan laju sepedanya didekat pemuda itu.
"Hei, jangan menangis di sini. Kau tak malu jika dilihat banyak orang?" Joon menegur sambil berjongkok disebelah pemuda itu.
"Maaf, apa aku mengganggu jalanmu" Pemuda itu menyahut dengan suara bergetar, ia kemudian menggeser posisinya.
"Tidak, jalanan masih luas. Maksudku kenapa menangis disini. Jangan salah paham aku hanya ingin membantu" Lalu ia melanjutkan "Ayo berdiri jangan berjongkok di sini" Ajak Joon sambil menarik tangannya menjauh dari gapura, mencari tempat duduk yang teduh.
"Hua...hiks hiks hiks" Baru saja mereka menumpukan tulang ekor ke atas tanah pemuda itu kembali menangis, melihatnya Joon menjadi panik.
"Ya ampun, ada masalah apa sih? Jangan menangis terus seperti ini tidak nyaman jika dilihat oleh orang lain"
"Kau mana mengerti perasaan hancur karena mimpimu runtuh" Pemuda itu menyahut dengan nada sedikit meninggi tapi kemudian matanya kembali sayu "Aku hanya ingin kuliah dan bekerja, aku sudah lama bermimpi untuk kuliah di sini dengan beasiswa dan aku diterima, kau tau aku bahagia sangat bahagia walau beasiswa itu hanya 50% dan bukan beasiswa full"
Joon khidmat mendengarkan tanpa memotong atau menyela dia mengerti bahwa di saat seperti ini pemuda itu hanya ingin didengarkan.
"Jadi untuk membayar kekurangan 50% itu aku mulai bekerja. Aku bekerja sangat giat hingga aku memperoleh promosi tapi aku lupa dengan statusku yang lain. Jadi sekarang karena nilai IP ku turun beasiswa yang kumiliki dicabut. Sedangkan aku tidak bisa membayar uang kuliah 100%, aku harus membagi-bagi gajiku untuk orang tua dan juga diriku" Pemuda itu menarik lututnya dan membenamkan wajahnya di sana "Aku benar-benar sudah meraih mimpiku tapi kemudian aku menghancurkannya" Lanjutnya sambil tertawa kering.
"Kau tau, kau sangat luar biasa. Tapi terkadang saat kita tumbuh dewasa akan ada beberapa waktu kita hanya bisa memiliki satu hal dan harus melepaskan yang lainnya. Semakin kita dewasa semakin kita sadar bawa kita itu sangat kecil dan hanya bagian dari debu Kosmik" Joon menjeda, melirik pemuda itu takut-takut kalau dia tersinggung "Karena itu kau bukannya menghancurkan mimpimu tapi Kosmos ingin kau meraih mimpimu dengan cara yang berbeda"
Setelah memastikan bahwa pemuda itu baik-baik saja, Joon melanjutkan agendanya yaitu pulang kerumah yang sempat tertunda. Saat sedang asik-asiknya mengayuh sepeda tiba-tiba dari arah sebuah gang muncul seorang anak kecil melaju kencang melihat itu refleks ia menggenggam remnya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Astaga, kamu tidak apa-apa dek?" Dengan khawatir ia segera menghampiri sang anak kecil yang terpelanting dari atas sepeda kayuhnya.
"Nggak apa-apa kok bang, adek kan otot kawat tulang besi" Anak kecil itu menyahut sambil membersihkan pasir dan debu yang menempel di pakaianya.
"Beneran dek, nggak apa-apa?"
"Nggak bang, adek ini calon the next generation-nya Iron man bang" Ucapnya bangga sambil mengangkat kedua lengan kurusnya, melihat itu Joon terkikik geli.
"Bang, mengapa tertawa ada yang lucu ya?" Anak itu memajukan bibirnya sambil memasang ekspresi kesal.
"Nggak dek nggak, cuma ya dek kamu tahukan kalau iron man itu nggak nyata?"
"Tahulah bang, makanya mimpi adek itu menjadikan Iron man nyata, ini adek lagi latihan biar kuat. Nanti kalau sudah besar adek bakal jadi orang kaya terus buat baju kayak iron man" Ucapnya dengan ekspresi bangga, sesaat Joon tertegun dengan ekspresi anak itu tapi kemudian dia tersenyum.
"Iya adek harus meraih mimpi adek ya" Dengan senyuman yang masih terpatri diwajahnya ia mengusap kepala anak itu.
Jarak rumahnya ke kampus adalah 10 kilometer, jarak yang tidak jauh namun juga tidak dekat. Tapi cahaya matahari hari ini terik sekali, berdiri pongah seakan mengumumkan keberadaanya. Ia pun memutuskan untuk beristirahat sejenak di bawah pohon Ketapang yang tumbuh dibahu jalan, ia menutup matanya merasakan hembusan angin laut yang menerpa.
"Andaikan aku bisa menyatu dengan alam" Desahnya
Bagi dirinya yang kecil dunia adalah keajaiban, ia dulu juga mempunyai mimpi. Berubah menjadi pahlawan lalu menyelamatkan dunia. Hatinya terhenti ketika ia memasuki masa-masa pubertas, ia mulai mengerti apa yang masyarakat inginkan darinya. Ia mulai mencemaskan apa yang dikatakan orang lain. Ia mulai mengubur mimpi-mimpinya bersamaan dengan bungkamnya ia. Berhenti melihat dirinya sebagai dirinya tapi melihat dari bagaimana orang lain memandangnya. Tidak ada orang yang mau menerima warna aslinya.
"Melihat orang lain bisa meraih mimpinya seperti itu, kenapa hatiku sakit ya?" Ia mendongakkan kepalanya menatap dedaunan yang bergoyang tertiup angin.
Ketika ia bermimpi menjadi produser musik dan penulis lagu ayahnya membakar catatan liriknya, ia diam dan menuruti kemauan ayahnya untuk menjadi selalu yang pertama dan utama di kelas. Melakukan yang terbaik yang ia bisa, mengubur mimpi-mimpinya dan meninggalkan itu semua di sudut memori yang usang.
Setelah dirasa cukup beristirahat ia berjalan sambil menuntun sepedanya. Saat ia melewati taman dapat didengarnya suara anak-anak yang bersahutan silih berganti.
"Lihat saja kalau aku besar nanti aku akan sehebat Lionel Messi"
"Kalau kamu menjadi Messi aku akan jadi Ronaldonya"
"Brum....Brum.......ckittt, woiii awas rem sepedaku blong. Sudah tau the next Lorenzo mau lewat tapi masih saja ditengah jalan"
"Ya sudah, ayo main masak-masakan tapi aku yang jadi Chef Renatanya, ya?"
Begitu banyak mimpi, dan begitu banyak cara bagi Kosmos untuk menghentikan atau membuka jalan bagi kapal-kapal kertas yang kini tengah berlayar di sungai takdir. Setiap manusia adalah mikrokosmos tapi manusia itu sendiri tak lebih dari debu kosmik.
Dibukanya pintu gerbang bercat hitam itu, pandangan Joon disambut dengan sosok sang ayah yang kini kulitnya telah dipenuhi dengan keriput, wajahnya pun sudah dipenuhi guratan yang menandakan perjalanan waktu. Ayahnya tengah duduk di bangku teras rumah, sambil membaca buku tentang botani.
"Nak, sudah pulang ya. Pasti lelah" Sapa sang ayah padanya. Ia mendekati ayahnya lalu memeluk leher ayahnya dari belakang.
"Lelah yah, tapi aku senang kok. Ayah, ayo kita merawat bonsai kita saja" Ajaknya pada sang ayah sambil menuntunnya.
Tidak masalah jika ia tidak bisa meraih mimpi miliknya, karena mimpi manusia tak hanya satu jika bukan mimpinya yang terwujud maka itu adalah mimpi orang lain. Karena manusia hanya debu kosmik maka untuk bersinar mereka harus bergandengan tangan. Satu individu, satu bintang, satu ruang. Ia kehilangan mimpinya tapi ia berhasil meraih mimpi milik ayahnya.
Manusia yang tak memiliki tujuan atau impian memang tak berarti, karena ia memutuskan untuk tidak melukiskan namanya di pusaran jantung bintang.
Sampit, 05 April 2020
Kenali dirimu lebih dalam lagi lalu petakan jiwamu menuju mimpi masa depan!!!
Catatan: Cerpen ini pernah diterbitkan dalam buku anatalogi "Rantai Mimpi" terbitan Penerbit Binarmedia tahun 2020 atas nama Enika Maya Oktavia dimana itu adalah nama asli saya.
Komentar
Posting Komentar