PUISI: Para Pejuang "Keringat, Darah, dan Air Mata"

Keringat, Darah, dan Air Mata

By Magnolia Putih


Darah yang mengalir itu tak bertuan

Waktu memangsa zaman

Hidupnya terjal bagai bebatuan

Mengiba pada Tuhan untuk uluran tangan


Keringat yang mengucur hitam

Memberi pengharapan

Tuan-tuan tubuhnya bergelimpang

Disini saya mencari nadi para malaikat yang tersimpan dalam lumbung-lumbung di hutan 


Dengan suara tercekat

Dan perjuangan berharga nan sia-sia yang disikat

Ketika langit berarak

Bebijian mengakar berterak 


Nadi tuan tertanam

Darah itu menjadi makanan

Air mata 24 karat tuan

Menjadi anak sungai yang mengalir menuju haribaan


Menjejak tak beranjak

Pasak-pasak terterjang terkoyak

Teringat dalam darah-darah di tiang-tiang eksekusi

Bau keringat yang mengucur di ruang-ruang penyiksaan

Dan tangisan pilu danau air mata sepanjang malam


Tak tahukah tuan bahwa semua akan termakan zaman?

Tapi jiwa tuan terus mengawang di nabastala penuh harapan

Mengisahkan sebuah cinta tak berbuah pada burung-burung walet yang menembus payoda

Cinta platonis pada bangsa anda tak hirap termakan senja


Sepanjangan masa itu

Dijalanan dengan guguran daun tertiup Serayu

Tuan terbang bersama debu-debu

Tak hilang ataupun tercampur dalam waktu


Siapakah diri anda yang begitu membekas

Layaknya bayangan dari peledak yang terperas

Anda membayang tak lekang

Hati saya berat dan terkekang

Memikirkan aliran darah, tetesan keringat, dan luapan air mata tuan-tuan

Komentar

Postingan Populer