CERPEN:Ayo Menginspirasi "Seperti Matahari"

 Seperti Matahari

By Magnolia Putih


Aku berdiri ditengah-tengah ruangan yang penuh dengan beberapa orang saling bermusyawarah mengeluarkan pendapat satu sama lain. Ku lihat wajah Pak Soekarno yang tengah menyampaikan rumusan dasar Negara yang dia sebut “Pancasila”, atau sila yang lima. Tapi kian lama suara makin mengecil dan mengabur dari pedengaranku, sarafku mentransmisikan getaran yang terus mendengung membuat pandanganku mengabur samar-samar, hingga akhirnya aku tersandung dan terjatuh.

Kring, kring, kring

Aku terhempas kelantai marmer yang dingin tanganku meraba ke atas nakas mencari jam weker yang tanpa sopan santun membangunkanku. Sambil mengusap-usap bagian belakang tubuhku, aku berdiri dan memposisikan diri untuk duduk di tepi ranjang, tanganku bergerak mengambil buku pelajaran sejarah Indonesia yang semalam aku baca.

“Sayang sekali alarm membangunkanku.” Ucapku sambil menatap kesal ke arah jam weker yang kini tergeletak tak berdaya di atas nakas.

Pintu kamar terbuka dan dari sana munculah kakakku dengan wajah yang tak enak dipandang sambil berkacak pinggang.

“Cepat bangun, kamu pikIr ini jam berapa?, makanya jangan begadang terus, cepat bersiap.” Suaranya menggelegar memenuhi ruanganku, setelah puas beliau pun pergi berlalu.

“Aku kan begadang baca buku.” Protesku dengan suara kecil hingga hanya hembusan angin dari lubang ventilasi yang menjawab.

Sebelum aku dimarahi lebih jauh lagi ku putuskan untun segera mengambil wudu dan menunaikan kewajiban salat subuh, setelah itu aku segera beranjak mandi dan berpakaian.

“Bang! Kaos kaki ku dimana?” Suara adikku menyela segala aktivitas yang kulakukan.

“Lah, kaos kaki itu kan punyamu kok tanya ke abang.” Aku balik bertanya ke arahnya.

Suara langkah kaki berlari kecil ke arah kamarku, yang dapat ku pastikan bahwa itu adalah adikku. Di pintu kamarku dia mengangkat tinggi-tinggi kaos kaki miliknya yang hanya sebelah dengan wajah cemberut.

“Kan minggu lalu abang yang pakai.” Wajahnya cemberut sebal.

“Tapi kan sudah abang kembalikan, coba tanya Kak Chika. Yang biasanya menata pakaian kamu kan Kak Chika.” Mendengar jawabanku dia segera pergi dan berlari, dapat ku dengar samar-samar suaranya berteriak-teriak.

Setelah selesai berbenah aku segera menenteng tas sekolahku dan pergi keluar, di ruang makan dapar ku lihat adikku tengah duduk sambil berusaha memasang kaos kakinya. Kak Chika menatapku sebal sambil menata sarapan ke atas meja.

“Kenapa kakak menatap aku seperti itu?” Tanganku bergerak mengambil sendok nasi yang ia pegang dan mulai menuangkan nasi ke piring yang ada.

“Kaos kaki Dik Zahra itu kan kamu yang pakai, terus kamu lempar sembarangan akhirnya terselip di pojokan kursi. Kamu ini kebiasaan nggak bisa teratur dan nggak bertanggung jawab. Jangan begitu lagi” Aku hanya bisa membalas ucapan kakakku dengan tawa canggung.

Entah mengapa aku senang mendengar beliau mengomel seperti ini, terasa seperti memiliki seorang ibu yang selalu perhatian dengan anaknya. Setelah orang tua ku bercerai dan memiliki keluarga baru, Kak Chika sebagai anak tertua langsung memikul tanggung jawab sebagai kepala keluarga untuk kami, padahal beliau saat itu baru duduk di bangku SMA.

Aku mengangkat kepalaku yang sedari tadi menunduk dan mentap butiran-butiran nasi di atas piring, hanya untuk mendapati bahwa kak Chika hanya mengaduk-aduk makanan di piringnya tak berminat.

“Kak.” Teguranku membuat Kak Chika dan juga adikku yang tengah fokus pada makanannya terkejut.

“Abang!” Protesnya sambil mengambil sendok yang tadi tak sengaja dia jatuhkan.

“Maaf, maaf” Ucapku sambil mengambil tisu dan memberikan tisu itu untuk membersihkan sendoknya.

“Kakak, kenapa?”  Wajah kakakku sedikit terkejut mendengar pertanyaanku.

“Memangnya kakak kenapa?” Dia malah balas bertanya kepadaku.

“Kakak tadi terlihat melamun, ada masalah Kak?”

Kakaku menegakkan punggungnya dan menletakkan ke dua tangannya yang saling bertaut ke atas meja, posisi yang akan selalu beliau lakukan saat sedang serius dan ingin mengajak orang lain berdiskusi. Sehingga aku ikut mencondongkan punggung ke depan agar lebih jelas mendengar suaranya.

“Komunitas kakak akan mengadakan acara bakti sosial dengan membuka perpustakaan berjalan di daerah pinggiran, tapi kami belum mendapatkan biaya dan jumlah buku yang kami kumpulkan kurang.” Beliau menghembuskan nafas lelah, dan kemudian menatapku.

“Kami juga berencana untuk mengajari anak-anak di sana membaca dan menulis, tapi komunitas kakak kekurangan anggota, bagaimana pendapatmu?”

“Untuk dana bukankah komunitas kakak bisa mencari sponsor? Lalu kalau persoalan jumlah buku yang kurang kalian bisa meminta sumbangan ke teman-teman kakak, kan?” Ucapku mencoba untuk memberi solusi.

Beliau menenggak air putih di gelasnya, “Ya, memang untuk ke dua variabel itu ada alternatifnya, tapi bagaimana menurutmu dengan anggota?”

“Bagaimana dengan mencari sukarelawan saja, teman kakak di kampus kan lumayan banyak”

“Sebelum kakak merekrut teman-teman kakak, bagaimana kalau kamu dulu yang kakak rekrut. Zahra saja sering ikut kakak kalau ada acara bakti sosial, kamu kan tidak pernah mau ikut” Matanya mengerling ke arahku dan bibirnya tersenyum manis.

“Nggak mau, aku lebih memilih membaca buku di rumah.” Tolakku yang mendapat tatapan maut darinya.

Dengan nada yang menyindir beliau membalas, “Katanya mau jadi orang yang bermanfaat bagi orang lain tapi bersosialisasi saja anti.”  Setelah mengatakan itu beliau pergi ke arah bak cucian piring membawa tumpukan piring kotor bekas sarapan kami.

“Bang, aku pernah baca quotes gitu, nah kata Pak Soekarno, beliau lebih suka pemuda yang merokok dan nongkrong minum kopi tapi mebicarakan bangsa dari pada pemuda kutu buku yang cuma diam dan nggak berbuat apa-apa.” Adikku tiba-tiba menyela.

“Baca dari mana kamu?” Tanyaku padanya yang dibalas cengiran lebar.

“Aku baca itu di instagram.” Jawabnya sambil terkikik-kikik. “Tapi bener kan, sebaik-baiknya manusia itu yang bermanfaat untuk sekitarnya.”

“Benar kata Zahra, peduli pada bangsa itu suatu kewajiban, percuma pintar kalau hanya disimpan untuk diri sendiri. Ayo, berangkat nanti kalian terlambat.”

Aku mengekori kakakku dari belakang, kami hanya memiliki sepeda motor bebek yang cukup tua, merek Yamaha keluaran tahun 2011. Kami pergi berbonceng tiga. Sebenarnya kami tahu ini melanggar peraturan lalu lintas tapi mau bagaimana lagi, sekolah adikku dan aku masing-masing berjarak 3 dan 5 kilometer dari rumah. Dan kota kami jarang angkutan umum.

Sesampainya di sekolah aku menyusuri lorong-lorong kelas dan mulai mempertanyakan eksistensiku di dunia, setelah ku pikir-pikir apa yang di katakan oleh adik dan kakakku ada benarnya bahwa eksistensi kita sebagai manusia akan berarti jika kita memberikan kontribusi ke sekitar kita.

Ketika aku memasuki kelas aku disambut dengan pemandangan teman-temanku yang tengah bersiap untuk penilaian harian, beberapa dari mereka membaca buku dengan serius dan beberapa lagi sibuk memotong kecil-kecil kertas yang kemudian ditulisi contekan, bahkan beberapa ada yang mencoba menjadi pengukir dadakan dengan menulis jawaban di atas meja dan yang paling aneh menurutku adalah mereka yang menjadi pemahat, mereka yang duduk di dekat dinding menulis contekan ke dinding tak ayal dinding kelas selalu penuh dengan coretan tak jelas. Satu keburukan menutupi keburukan lain, begitulah cara kerja dunia.

Seperti kata salah seorang legenda komedi Indonesia yaitu Om Kasino, Indonesia tak kekurangan orang pintar tapi kekurangan orang jujur. Bahkan dibangku sekolah saja praktek nepotisme kerap kali berlaku, praktek menolong dalam kebatilan juga mudah sekali ditemui di setiap lingkup pertemanan di sekolah. Maka tak heran banyak pejabat yang kelakuannya bejat, bagaimana pun juga dunia pendidikan sejak kecil sudah membentuk pribadi kapitalis seperti itu.

‘Setidaknya aku mencoba untuk tidak melakukannya, atupun menjadi bagian dari mereka.’ Pikirku.

Singkat cerita kami menjalankan ulangan dengan sangat “inovatif” mereka menemukan banyak cara baru untuk menjalakan misi rahasia yang disebut dengan menyontek. Setelah ulangan aku memilih untuk menyenderkan kepalaku ke dinding dan mengkhayal, karena mimpi terkadang lebih indah dari kenyataan. Dalam dunia pendidikan sekarang ini memiliki banyak sekali perbedaan dengan dunia pendidikan zaman dulu, banyak inovasi yang dikembangkan dari masa ke masa.

“…para siswa diperbolehkan pulang

Suara bel pulang sekolah itu mengaburkan semua diskusi yang kubuat di kepalaku, ngomong-ngomong jam pelajaran terakhir ternyata kosong. Setelah ku pikir-pikir yang paling perlu kita buat adalah inovasi peraturan agar pengajar tidak suka korupsi waktu.

Bagi para pelajar bel pulang sekolah adalah sepotong melodi yang berasal dari surge, dak ketika suara itu terdengar suara riuh saling bersahutan dan siswa-siswa pun berhamburan keluar. Sebelum teman-temanku beranjak pulang aku berdiri dan membuat pengumuman.

“Teman-teman sekalian, boleh aku meminta waktu kalian sekalian?” Tanyaku ragu, aku benar-benar malu ketika menjadi pusat perhatian karena aku jarang berbicara jika di sekolah.

Setelah melihat mereka memberikan respon yang cukup baik aku meneruskan, “ Aku bergabung ke sebuah komunitas literasi, dan kami berencana melakukan bakti sosial dengan membuka perpustakaan keliling dan membuka kelas membaca dan menulis untuk anak-anak pinggiran. Jadi aku ingin meminta tolong kepada kalian untuk menyumbangkan buku kalian yang tidak terpakai jika kalian berkenan”

 “Wah, menarik sekali. Tentu, besok aku akan membawakan buku milikku dari rumah.”

“Aku punya beberapa buku lama di rumah, besok akan ku bawakan.”

“Aku hanya punya buku pelajaran sekolah apakah aku bisa menyumbangkan itu?”

“Sayangnya aku hanya membaca e-book, dan tidak punya buku cetak kecuali buku sekolah.”

Walaupun beberapa orang ada yang  abai dan berlalu begitu saja, namun rasanya aku sangat lega mendegar beberapa tanggapan positif dari mereka, setelah aku menjelaskan beberapa hal dan mereka berjanji akan membawa buku mereka. Kami berpisah di gerbang sekolah.

Saat aku mencapai gerbang aku mendengar suara tertawa seseorang dari samping pagar sekolah, karena rasa penasaran aku memutuskan untuk mendekat dan melihat apa yang terjadi. Amarahku langsung terpancing ketika aku mendengar sesuatu yang mereka jadikan bahan untuk bercanda.

“Kalau alat pendengaranmu itu di lepas apakah kamu masih tetap bisa mendengar?” Salah satu dari mereka kemudian menarik alat pendengaran dari telinga gadis itu.

Gadis itu hanya diam dan tersenyum tipis, dia menunduk dalam sedangkan anak laki-laki dan perempuan di sekitarnya mulai berteriak-teriak apakah dia masih tetap bisa mendegar atau tidak sambil tertawa dan menganggap hal itu lucu. Karena sudah melewati batas, aku memutuskan untuk menghampiri mereka.

“Hei, sudah. Hentikan, kalian membuatnya merasa terganggu dan tidak nyaman. Lagi pula yang kalian lakukan itu sama saja dengan merendahkan dia.” Tegurku, mereka menatap kearahku dengan pandangan yang sulit diartikan.

“Kami kan hanya bercanda janganlah terlalu dibawa perasaan.” Sahut salah satu dari mereka dengan nada mengejek, namun tangannya tetap bergerak untuk mengembalikan alat pendengaran gadis itu. Disambung dengan sahutan teman-temannya bahwa aku terlalu membesar-besarkan masalah, dan juga terlalu serius dalam menanggapi candaan mereka.

“Bercanda itu kalau semua pihak tertawa, kalau hanya satu pihak yang tertawa sedangkan pihak lain terhina atau tersakiti itu bukan bercanda tapi perundungan.” Aku membalas tak kalah sarkas, yang kemudian tak dijawab oleh mereka. Mereka terlihat ingin membuka mulut namun urung dan memilih untuk pergi begitu saja.

Setelah mereka pergi, gadis itu menangkupkan ke dua tangannya ke depan dada yang hanya bisa ku balas dengan acungan jempol. Kemudian dia berlalu pergi dengan seorang wanita yang ku perkirakan adalah ibunya yang baru saja tiba dengan mengendarai sepeda motor.

‘Semoga pihak sekolah punya pembaharuan sistem, atau inovasi dalam peraturan sekolah untuk mencegah hal-hal seperti ini terjadi pada murid mereka’ Aku termenung memikirkan betapa kurangnya peraturan yang mengatur perundungan di sekolah. Karena banyak guru BK yang abai akan hal itu, dan banyak dari korban yang enggan berbicara.

 Setelah sibuk dengan lamunanku. Tak lama kemudian aku pun dijemput oleh kakakku.

“Kak, aku mau bergabung untuk acara bakti sosial lusa, kan tepat hari itu hari minggu jadi aku libur.”

“Bagus.” Dari kaca spion terlihat senyum manis milik kak Chika yang akhirnya menular padaku.

Besoknya di sekolah teman-temanku benar-benar membawa banyak buku yang mereka janjikan. Senyum Kak Chika ketika melihat buku yang ku bawa tak akan terlupakan. Itu adalah senyum terindah yang seperti  bunga matahari.

Saat hari-H entah mengapa aku bangun lebih dulu daripada alarmku, aku bangun dengan semangat menyambut pagi. Aku berpakain dengan rapi dan kami berangkat pergi ke titik pertemuan yang telah ditetapkan oleh teman-teman komunitas Kak Chika.

Jalan menuju pemukiman begitu sulit untuk dilalui jalan becek dan banyak lumpur, hal ini membuatku menyesal mengenakan sepatu putih karena sekarang itu berubah menjadi kecoklatan, dan dipenuhi lumpur.

“Kak, kok nggak bilang sih kalau tempatnya becek seperti ini.”

“Ya, maklum kemarin malam kan hujan cukup deras.” Balas Kak Chika sambil membenarkan ujung  jilbab yang terkena air agar tidak lepek menempel ke dahinya.

Rumah-rumah di sini bisa dikatakan tak layak huni dan benar-benar kumuh, banyak rumah dari terpal atau baner yang berdiri asal-asalan. Beberapa yang lebih beruntung memiliki dinding kayu yang sudah terlihat keropos termakan rayap.

Kami akhirnya sampai ke tempat yang akan kami jadikan tempat acara, sebuah tanah lapang yang cukup kering dengan sedikit rumput. Kami mulai mendirikan tenda-tenda yang bertuliskan nama-nama badan atau tempat yang memberi dana pada acara ini.

Kak Radit yang merupakan ketua dari komunitas ini tengah menata buku-buku yang keatas meja bejar yang telah dilapisi kain putih, aku menghampiri beliau dan mulai membantu.

“Baskara, ya? Adiknya Chika?” Sambil bertanya tangannya tetap bergerak dengan lincah menyusun buku-buku.

“Iya kak.” Jawabku dengan agak canggung yang beliau balas dengan anggukan.

Selama kami melakukan persiapan banyak anak-anak yang menonton kami dari pinggir lapangan, menatap kami dengan mata polos dan penuh rasa ingin tahu. Setelah seluruh persiapan selesai, Kak Radit membuka acara dan anak-anak mulai menyerbu masuk dan mendatangi meja-meja yang penuh akan buku, mereka duduk dengan rapi di bangku-bangku panjang yang disediakan. Beberapa anak yang lebih mudah berkerumun di tenda yang dijaga oleh Kak Chika, tenda untuk belajar membaca dan menulis.

Melihat senyum anak-anak itu membuatku ikut tersenyum, senyum mereka lebih cerah dari sinar mentari pagi, dan tawa mereka bahkan lebih indah dari suara musik klasik. Tak terasa waktu berlalu seperti sebuah film komedi yang menyegarkan, hingga akhir acara aku benar-benar penuh dengan energi.

“Bagaimana rasanya?” Kak Chika merangkul bahuku.

“Sangat menyenangkan bisa membantu orang lain.” Jawabku sambil tersenyum lebar.

“Tentu saja, kalau tidak salah namamu dalam bahasa sanksekerta berarti matahari loh.” Beliau terdiam sejenak kemudian melanjutkan, “Makanya kamu juga harus jadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Kamu tahu, jika kamu tahu satu ilmu yang baik maka amalkan jangan hanya disimpan atau di hanya menjadi teori semata”

Aku membalas dengan senyum, “Bukankah seharusnya memanng demikian, dasar negara adalah pancasila yang harusnya menjadi acuan hidup berbangsa dan bernegara tapi pada kenyataanya kebanyakan orang tidak mengamalkan hal tersebut. Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Tapi masih banyak orang yang tak takut Tuhan tak perlu jauh-jauh contohnya seperti korupsi, atau seperti menyontek saja sudah temasuk ya kan, Kak?”

Kak Chika hanya tersenyum lembut, dan mempercepat langkahnhya karena kami sudah tertinggal jauh dari yang lainnya.

“Kak, Bang, Cepat!” Teriak Zahra tak sabaran.

Today i am who i am with all of my faults and mistakes

Sebanyak apapun kesalahan kita di masa lalu itu tetaplah kita meninggalkan masa lalu di sudut pikiran memang bukan suaru yang salah. Tapi akan lebih baik jika kita berdamai dengan itu semua. Waktu tidak bisa berputar ke belakang tapi bisa bergerak maju ke depan. Sebaik-baiknya seseorang adalah yang dapat mengukir namanya diatas dunia fana.

Sampit, 19 September  2020

Komentar

Postingan Populer