CERPEN: Transformasikan Hidupmu "Jembatan Menuju Mimpi"
Jembatan Menuju Mimpi
Jika mengenang kembali masa lalunya, Akbar termasuk anak yang diberikan hidayah oleh-Nya. Dia berada dalam euphoria sukacita dan terkadang akan menangis dalam sunyi karena terharu. Bagaimana tidak dulu sewaktu kecil, dia harus berteriak nyaring-nyaring dengan suara melengking untuk menyadarkan orang tuanya betapa pentingnya pendidikan itu, padahal dia berasal dari keluarga yang mampu. Untuk ukuran biaya sekolah harusnya urusan kecil bagi orang tuanya, namun dia tidak menikmati itu semua. Dan yang lebih membuatnya miris adalah kenyataan bahwa teman-temannya yang keluarganya tak seberuntung dirinya memiliki orang tua yang paham betul pentingnya pendidikan. Ya, bagaimanapun dia hanya sebatang ilalang dan bukan anak singkong.
Akbar lahir dan tinggal di pelosok desa., lumayan jauh dari kota namun juga tidak bisa dikatakan sebagai tempat terpencil. Tapi tradisi dan adat-istiadat disana sangat kuat dan kental. Termasuk untuk urusan pendidikan banyak orang tua yang masih menganggap remeh hal tersebut, termasuk ayah dan ibunya.
Setiap kali dia menyinggung masalah sekolah ataupun pendidikan ayahnya akan langsung membentak dengan suara keras yang tidak dapat ditentang. Anak kecil tahu apa katanya. Atau kalau tidak akan langsung dialihkan pembicaraannya membahas hal lain yang dianggapnya penting, misalnya membahas tentang anak gadis desa mana yang membuatnya tertarik . Pembahasan yang sangat dibenci oleh Akbar, karena menurutnya itu adalah hal yang tak begitu penting. Tapi orientasi orang tuanya terus berorientasi pada pemikiran kolot jaman dulu, bahwa sekolah tidak begitu penting cukup tahu cara berhitung dan menulis itu sudah cukup, setelah itu menikah. Dan selesai, begitulah siklus hidup yang ideal menurut orang tuanya.
“Daripada sekolah lebih baik kamu pergi berladang, ada kebun yang bisa digarap itu berhektar-hektar. Ayah tidak pergi ke sekolah tapi punya berhektar-hektar tanah. Lihat itu orang-orang yang bergelar sarjana hanya jadi budak corporate, gaji minim, waktu ibadah sedikit, sudah begitu hidup pun sulit.”
“Kau itu sudah perjaka, lulus sekolah menikah saja nanti. Daripada kamu berpacar lalu nanti berzina. Bikin malu keluarga saja”
Dan jika boleh jujur pernyataan-pernyataan itu membuat Akbar tak berpuas hati. Dalam benaknya, bukankah menuntut ilmu juga salah satu perintah Allah, bahkan surah pertama yang turun kepada Nabi Muhamad Adalah surah Al-Alaq yang memerintah kan kita untuk membaca. Islam juga memrintahkan agar umatnya senantiasa menuntut ilmu, mempelajari ilmu pengetahuan, senantiasa belajar membaca dan menulis kareana demikian maka derajadnya sebagai makhluk Allah yang maha mulia, manusia dianjurkan untuk sanggup mengembangkan ilmu pengetahuan yang telah Allah limpahkan. Maka menurut Akbar pergi ke sekolah atau madrasah adalah salah satu jalan.
Tapi kalau pernyataan itu Dia ajukan, maka sudah pasti mata ayahnya melotot sambil berkata, “ Sudah, jangan banyak bicara, tahu apa kamu, jangan melawan kamu itu Cuma anak kecil. Tahu apa tentang hidup.” Ungkapan yang memang sudah tersimpan di otak hampir seluruh orangtua di desa. Jika sudah seperti itu maka jawabannya hanya satu yaitu bungkam.
Sudah menjadi adab bahwa semua perkataan orangtua sifatnya mutlak. Menentang orang tua adalah hal tabu. Anak yang menentang orangtua akan dianggap kurang ajar dan tidak beradab, lalu yang akan jadi sasaran amukan adalah sekolah yang ‘katanya’ gagal mendidik siswanya. Jika ayah sudah menetapkan keputusan, maka ibu pasti menurut pula dan hanya mengangguk tanda setuju. Hijau kata ayah, maka ibu juga harus hijau tidak boleh merah apalagi putih. Isteri wajib menuruti kata dan kehendak suami, isteri adalah makmum yang wajib mengamini imam selesai melantunkan Surah Al-Fatihah. Pokoknya harus menurut jika tidak mau dilabeli sebagai isteri yang buruk.
Akbar hanya selembar ilalang yang akarnya mencengkram bumi tapi dia ingin terbang di angkasa, tidak perlu berubah menjadi burung walet cukuplah dia menjadi daun kering yang akan terbang tertiup angin senja. Dia tak mau terbelenggu oleh pemikiran-pemikiran kolot orang tuanya yang membuat dapat membuatnya terjebak dalam kotak Pandora, dia ingin bebas dan lepas mengeksplorasi hal-hal baru yang ingin dia ketahui dan pergi ke sekolah adalah salah satu jawabannya.
Bertahun-tahun berlalu, banyak yang berubah dari desanya, ketika itu dia ingin pergi ke seberang pulau untuk melanjutkan kuliah tapi meski sekarang kondisi desanya sudah mulai berkembang, namun pola pikir ayahnya masih belum berubah. Urusan pendidikan belum diutamakan. Inilah yang mengganjal pikirannya.
“Sudahlah, Nak. Jangan bertengkar dengan ayahmu. Turuti saja kata ayahmu,” demikian kata ibu mencoba menengahi.
“Bu, aku ingin melanjutkan kuliah di seberang sana bukan semena-mena asal memilih begitu saja, universitas itu salah satu yang paling bagus Bu,” katanya mengiba.
“Untuk apa kau sekolah di sana? Di kota sudah ada perguruan tinggi.”
Seperti biasanya sang ibu lebih memihak sang ayah. Apalagi ibunya tahu bahwa salah satu tahu bahwa anak ketua RT melanjutkan studi di sana. Perguruan itu baru dibangun 5 tahun terakhir, belum terakreditasi dan tidak ada jurusan yang dia minati di sana .
“Perguruan di sini tidak sama dengan yang itu, Bu. Yang berada di kota sebelah itu Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi sedangkan aku ingin masuk jurusan Oseanografi.”
“Ah kamu itu, ada-ada saja jawabanmu, di sana itu belajar, dan di sini juga untuk belajar. Apanya yang tidak sama?”
“Namanya saja sudah tidak sama, Bu. Cara belajarnya juga tidak sama. Mata pelajaran kuliahnya juga tidak sama.”
”Ah, sudah. Itu bebek belum diberi makan, lebih baik kau ambil ember lalu ambil dedak. Sebentar lagi ayahmu pulang. Ia akan marah jika tahu bebek-bebeknya belum kau beri makan,” itulah jawaban pamungkas sang ibu.
Meskipun dia kesal dengan sikap sang ibu, itu dia lakukan juga. Pernah suatu ketika dia meledak-ledak dan menyumpah serapah sambil membanting ember yang dia pegang sampai semua dedak yang ada di dalamnya terhambur keluar. Saat itu waja ibunya nampak sangat kecewa, tatapannya juga syarat akan luka. Dan dia merasa tak tega jika ibunya sudah seperti itu, hatinya terasa seperti digerogoti rasa bersalah.
Peringatan hari Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober Akbar berharap bahwa itu dapat menjadi penyebab terbukanya pintu hati sang ayah untuk merespon keinginan Akbar berkuliah di universitas impiannya. Semua sekolah diisyaratkan mengutus perwakilan, saat itu dia terpilih sebagai perwakilan sekolahnya untuk mengikuti Ikrar Bersama Anak Bangsa Provinsi yang akan diadakan di ibukota provinsi.
Disana dia bertemu banyak teman baru dari berbagai daerah kabupaten/kota dengan berbagai karakter dan juga latar belakang yang berbeda. Beberapa bahkan berasal dari SMA terbaik se-provinsi. Selama di asrama mereka banyak bertukar pikiran dan juga membahas berbagai masalah krusial. Salah satunya adalah masalah kesadaran orangtua mengenai pendidikan anak yang sangat rendah di Indonesia sehingga menghambat proses belajar anak-anak.
“Zaman mungkin berubah, tapi pola pikir itu sulit diubah. Apalagi jika sudah berkenaan dengan keyakinan dalam diri seseorang,” seorang anak laki-laki berkulit sawo matang dengan mata elang itu duduk bersila sambil bergumam.
“Ya itu benar, angka pernikahan dini yang tinggi, perceraian, dan kekerasan pada anak juga salah satu dampak dari kurangnya edukasi. Maksudku provinsi kita berada di lima besar pernikahan usia 15-19 terbanyak nasional,” sahut Akbar.
“Alasannya bervariasi, tapi yang paling miris adalah alasan untuk menghindari zina, tapi apakah masuk akal untuk meninggalkan dan mengesampingkan pendidikan hanya karena alasan itu? Lagi pula menikah bukan satu-satunya jalan untuk menghindari zina.”
“Tidak hanya itu, pernikahan dini itu juga punya dampak buruk tidak hanya bagi generasi atas, tapi juga generasi sesudahnya. Anak terancam stunting, kemiskinan, dan juga bisa berujung pada kematian ibu melahirkan atau juga perceraian. Maka dari itu pendidikan itu penting agar ketika ada satu pembahasan kita tidak hanya memandang hal itu dari satu sisi saja tapi juga dari berbagai aspek. Apalagi sekarang dunia semakin kompleks. Ah sudahlah, aku malah berceramah dan sok pintar,” laki-laki berkulit sawo matang itu mengakhiri ucapannya dengan kekehan canggung.
Semua percakapan itu disimpan rapi oleh akbar dalam kepalanya. Seusai kegiatan IKBAB Provinsi dan dia akhirnya pulang ke rumahnya. Jarak ibukota provinsi ke kabupatennya setidaknya memakan waktu 4-6 jam, bus yang rombongannya tumpangi akan mengantar mereka ke sekolah. Sedangkan jarak sekolahnya ke rumah setidaknya adalah 10 KM, jadi di jalan dia banyak merenung dan berpikir, tentang banyak hal, tentang ayahnya, impiannya, dan dirinya.
Seperti apa yang diperkirakannya semuanya tak akan berjalan mulus, dia beradu argumen dengan sang ayah. Dia sudah membeberkan banyak alasan mengapa dia enggan menikah muda seperti kehendak ayahnya dan ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.
“Kalau kamu tetap ngotot pergi ke universitas impianmu itu. Demi Allah, ayah tidak akan ridho,” suara ayahnya menggelegar memecah sunyinya malam, “Ayah, sudah membiarkanmu melanjutkan sekolah sampai SMA di kota, padahal di desa sebelah ada SMA, kamu ngotot juga mau kesana ayah bolehkan. Lalu apalagi ini? Mulai melunjak?”
Mendengar perkataan sang ayah, Akbar terdiam dan tak bisa berkata-kata. Ridho orangtua berarti ridho Allah, jika sudah begini tak akan berkah hidupnya. Dia hanya bisa memandang ayahnya dengan pandangan mengabur karena air mata. Memang sempat terlintas di pikirannya untuk kabur saja apalagi dia lumayan pintar dia pasti bisa mendapat beasiswa untuk melanjutkan kuliah di tempat impiannya. Tapi setelah mendengar ucapan ayahnya sudah pupus semua harapan dan impiannya.
Bulan Mei setelah pengumuman kelulusan ayahnya memintanya untuk membantu di kebun serta mengurus ternak. Dia pikir itu puncaknya tapi ternyata dia salah.
“Bar, Ayah mau kamu berkenalan dengan Halisa putri Pak Mamat, dia cantik, bagaimana menurutmu?”
“Maksud ayah menurutku apa?”
“Ya, pendapatmu tentang Halisa, kamu berkenalanlah dulu, kalau cocok nanti akan ayah lamarkan untukmu,’ ucapan ayahnya sontak membuat Akbar seperti tersambar geledek di siang hari.
“Ayah, aku masih belum mau menikah, kalau memang tak boleh di universitas yang aku mau. Tak apa melanjutkan sekolah di STIE di sini ayah. Apa saja, asal jangan ayah minta aku menikah.”
“Menikah itu hukumnya wajib, ibadah pula. Kamu tinggal bekerja dengan ayah saja, lagipula kamu sudah bujang seperti ini. Orang lain sekolah tinggi itu untuk mencari ijazah agar bisa bekerja, kamu sudah punya ayah tinggal lanjutkan pekerjaan ayah dan semuanya beres. Ijazah mu nanti itu mana berguna.”
Padahal dia hanya ingin pergi melanjutkan sekolah tapi kenapa rasanya sulit sekali. Akbar tersenyum miris, dia membabat ilalang yang tumbuh bergumpal di ladangnya kemudian menggiring sapi-sapi milik ayahnya ke area yang biasanya mereka gunakan untuk berendam. Dia ingin menyerah saja untuk pergi ke universitas dan menuruti semua kemauan ayahnya saja. Untuk menghilangkan rasa kesal dihatinya, Akbar beristighfar. Dia melihat kearah sapi yang sedang memakan rumput lalu tiba-tiba dalam otaknya muncul sebuah nama,
“Cyber University…’
Dia tersenyum dengan pemikirannya, akhirnya satu masalah teratasi.
“Allahuma la sahla illa ma ja’altahu sahla wa anta taj’alul hazna idza syi’ta sahla”
Menemukan jembatan menuju mimpinya…
Sampit, April 23, 2021
Komentar
Posting Komentar