CERPEN: Motivasi, Kesehatan Mental, Keluarga "Anak Bulan"

 Anak Bulan

By Magnolia Putih



Lengan kecilku hitam dan biru dan ada sedikit luka tepat di bawah mataku. Setiap malam aku berbaring terjaga dan dari bawah pertempuran dimulai lagi. Apakah mereka lupa alasannya? Kenapa anak kecil ini lahir? Karena jika mereka terus berjuang meraka akan menghancurkan keluarga ini.  Dan cobalah yang terbaik untuk menyimpan  rumah yang rusak ini. Berhenti berkelahi, berhenti sakit, coba cintai lagi . Jika mereka pernah memegangnya erat-erat. Biarkan mereka merasakan cinta yang membuat mereka tersenyum lagi.

Mereka akan berteriak, mereka berkelahi habis-habisan. Aku akan berharap, aku akan berdoa, aku sedang menunggu berpegang pada mimpi. Sementara aku melihat tembok-tembok ini runtuh. Kata-kata tajam seperti pisau, menebasnya. Kaca yang hancur seperti masa lalu, sekarang menjadi kenangan.

"Hei ibu, hei ayah kapan ini berakhir? Di mana kalian kehilangan kebahagiaan kalian? Aku di sini sendirian di dalam rumah yang hancur ini. Siapa yang benar, siapa yang salah, siapa yang peduli?" Aku mencoba berbicara tapi hanya hembusan angin yang menjawabnya.

Nafasku tersengal-sengal, keringat membanjiri tubuhku sengatan matahari membangunkanku dari ingatan kelam masa lalu, dimana memori itu akan memburuku dalam mimpi, tapi aku tak pernah menyesal memiliki kenangan itu karena hal itulah yang menjadikan aku adalah aku yang sekarang.

Setelah sedikit tenang aku melanjutkan menulis artikel yang tadi sempat tertunda karena aku jatuh terlelap.

"Masih banyak orang yang tidak mengerti apa itu gangguan mental. Masih banyak yang acuh tak acuh terhadap kesehatan mental orang disekitarnya atau bahkan dirinya sendiri."

Ketikan terakhir dari artikel yang kutulis mengingatkanku dengan perjuangan yang aku lakukan untuk bangkit dari masa lalu dan berubah menjadi pribadi yang lebih baik.

"Bintang bersinar paling terang dalam kegelapan malam yang terdalam, semakin gelap malam semakin terang cahaya bintang" Kalimat itu adalah kalimat penyemangat ku dan motto yang menemani perjuanganku untuk bangkit dari rasa sakit dan kekecewaan.

Yang orang lain tau tentang aku adalah aku yang bahagia, aku yang ceria, aku yang cerdas dan aku yang bersinar. Mereka tak pernah tau seberapa hancur aku di dalam tapi lagi-lagi manusia itu hidup sendiri mereka bersosialisasi karena mereka membutuhkan. Dan aku mulai menyadari betapa pentingnya pendidikan mental sejak usia dini pada saat itu, dalam perjuanganku memperbaiki kondisi mental ku yang sangat hancur, bahkan aku sangat ketakutan hanya untuk bersitatap dengan orang lain.

"Kesehatan mental adalah hal yang tabu dalam masyarakat" Begitulah pemikiranku dan yang menjadi alasan utamaku berlarut-larut dalam kondisi mental buruk selama bertahun-tahun, tapi bukankan kita bisa merubah sesuatu walau hanya dengan satu kata atau satu kalimat, seperti butterfly effect di hutan tropis, atau paradoks yang tidak berujung seperti domino. Semuanya bisa berubah jika kita mau.

Aku hanya orang biasa yang ingin menyadarkan orang-orang tentang betapa pentingnya memperhatikan kesehatan mental, aku pun tak serta merta sehat, aku menderita anxiety disorder dan self harm yang membuatku takut berhadapan dengan orang lain  terpikir olehku untuk bunuh diri agar semua ini berakhir. Tapi jiwaku yang sudah rapuh memberontak tentu tak mau tunduk pada sang inang, sudah bertahan sejauh ini dan ingin semuanya berakhir disini?

"Tidak!!!" Hatiku meraung mencari pegangan walau hanya kehampaan yang berada dalam genggaman.

Percekcokan tiada henti, masalah keuangan yang semakin menjepit, hinaan dan cacian ataupun perolok-olokan dari orang-orang yang bahkan tak tau apa-apa, semuanya sudah pernah ku cicipi. Tentu Aku lelah setiap hari harus memasang topeng dan menggunakan filter dalam kehidupan ku agar orang lain tau aku bahagia dan tidak hancur. Aku bahkan tidak bisa menangis karena depersonalisasi-derealisasi. Ya, air mata pun menjadi barang mewah.

"Kamu itu beban" Kata kakakku. Aku sadar aku adalah beban tapi haruskah dikatakan seperti itu?

"Kamu itu anak yang nggak diharapkan ibu nggak pengen punya kamu, sayangnya malah ada kamu" Ibu berucap dengan nada bercanda tapi itu menyakiti hatiku.

Setiap detik jarum jam aku mencoba mengobati diriku sendiri walau hanya berteman sepi atau hanya hembusan angin yang menjawab cerita ku.

"Jika memang kamu ingin menikah lagi, maka menikahlah kamu bukan tanggung jawab saya lagi." Begitu isi pesan yang ayahku kirimkan pada ibu, begitu pesan itu sampai neraka baru tercipta, ibuku mulai suka memukuliku. Aku tau mungkin beliau hanya sedikit tertekan dan perlu pelampiasan tapi bukankah aku juga berhak merasa tertekan?

Dan untuk seorang anak yang pada saat itu berusia 12 tahun hal tersebut benar-benar menjadi beban berat, seolah ada mega mendung raksasa bergelayut di hati ataupun ada besi ratusan ton yang harus di topang di pundak.

Hingga aku melihat sebuah kampanye dari UNICEF bertajuk "Love Myself Champaign" yang menyadarkanku bahwa bahagia itu bukan tentang seberapa banyak kamu menerima tapi seberapa banyak kamu rela memberikan kebahagiaan kepada orang lain.

"No matter who you are, your skin color, your gender identity, just speak yourself, find your name and find your voice by speaking yourself"

Pidato yang dibawakan oleh Kim Namjoon dalam sidang umum PBB mewakili UNICEF itu benar-benar membantuku bangkit dari keterpurukan dan aku lebih ekstra berjuang memperbaiki keadaan mental ku.

Aku bangkit dengan mencintai diriku sendiri, dengan fokus pada hal-hal yang berharga dalam hidupku mencoba menutup segala jalan masuk untuk hal yang sia-sia atau yang membuatku bersedih. Dan lorong itu masih panjang perjuanganku masih terus berlanjut untuk lebih mencintai diriku sendiri. Tidak ada yang bisa menolong diriku kecuali diriku sendiri.

Aku mulai membagi kisahku kepada teman-temanku, mencoba memahami dan menolong temanku yang mengalami depresi, dari ratusan teman yang aku miliki aku sadar ratusan juga dari mereka yang mengalami gangguan mental bahkan berniat bunuh diri, berjuang untuk bangkit dari keterpurukan bukanlah hal yang mudah, karena itu aku sebagai pendidik sebaya dalam forum GenRe dan pemuda PIK-R mendampingi mereka.

Tidak ada kehidupan yang sempurna, semua jalan menuju bahagia selalu penuh perjuangan bahkan walaupun sudah berjuang terkadang diujung jalan belum tentu ada suka cita, tapi jika kita berbahagia dalam prosesnya maka hasil akhir hanya bonus dari dunia.

Perjuanganku belum selesai, masih banyak orang harus ditolong dari lembah bernama kesehatan mental, masih banyak yang tak mengenal atau masih tabu untuk membicarakan tentang kesehatan mental tapi jika kita tak peduli lalu siapa yang akan memperbaiki keadaan?

Kita semua adalah anak bulan, tercipta dari residu debu bintang yang supernova. Ketika bulan naik itu adalah saatnya untuk bersinar. Karena itu ingatlah kita hanya bisa melihat cahaya jika kita jatuh dalam kegelapan.

 

Sampit, 20 Mei 2020

Komentar

Postingan Populer