CERPEN: Kesehatan Mental "Rumah Rusak"
Rumah Rusak
By Magnolia Putih
Ada suara dari dapur dan itu adalah suara yang ku
dengar ribuan kali sebelumnya. Ketika aku mendengar ibuku menangis. Aku berlari
dan bersembunyi di dalam kamar. Tapi tidak ada jalan keluar dari kemarahan
dalam suara ayahku dan liquid asin
meluruh, aku jatuh berlutut dan berdoa.
Aku tahu ibuku mencintaiku, tetapi apakah ayahku
bahkan perduli? Meskipun aku sedih atau marah
beliau tidak pernah ada di sana ketika aku membutuhkannya. Aku harap
beliau menyesali apa yang beliau lakukan. Aku menangis siang dan malam
sekarang, apa yang salah denganku? Aku tidak bisa bertarung, sekarang aku
merasa seperti tautan yang lemah . Aku ingin merengkuh ibu tapi aku terlalu
takut untuk terplanting dan dipukili.
"Bu..." Ku buka sedikit pintu kamarku
mengintip melalui celah kecil disana, kulihat tubuh ringkih wanita yang sudah
melahirkanku berjongkok sambil menangis. Hatiku teriris tapi aku tidak bisa
berbuat apa-apa.
Ibuku mendongakkan kepalanya, matanya seperti bara
menatapku penuh amarah. "Andaikan kamu nggak lahir udah dari dulu ibu
cerai dengan ayahmu!! dasar anak nggak diharapkan, bisanya menyusahkan
saja"
"Bu, aku ini anakmu tak bisakah kau tak
mengucapkan kata-kata yang menyakitkan itu?" Sedikit banyak aku tersulut
emosi mendengar perkataan ibu, tak bisa kutahan aku mulai menangis. Tidakkah
ibu tau bahwa setiap kata itu memiliki kekuatan untuk mengubah sesuatu,
terlampau sering sudah beliau memarahi dan mencaciku sekedar untuk melampiaskan
emosi.
"Sampai akhir. Sejatinya manusia itu lahir
sendiri, orang tua hanyalah perantara yang membuatnya lahir kedunia selebihnya
aku tak punya hubungan dengan mereka" Tegasku dalam hati, ku tatap nyalang
ibu dan kubalikan badanku memasuki kamar. Ah, mungkin agendaku setelah ini
adalah membasahi bantal dengan air mata.
Rasanya tidak enak sendirian menangis, sendiri
tinggal di rumah yang berantakan. Depresi menyerang dengan keras seperti
setetes hujan raksasa yang beratnya bisa meratakan gedung pencakar langit. Aku
benar-benar menjalankan agendaku tadi malam 'menangis sampai terlelap'. Paginya
aku kesulitan membuka mata karena mataku lengket dan berat, padahal aku harus
berangkat ke sekolah.
Aku berangkat sekolah dengan sedikit tergesa-gesa karena kakak dan ibuku sudah mulai beretngkat hebat, piring dan vas bunga melayang di udara dan menghatam tembok sebelum akhirnya pecah berserakan. Suara tangisan dan betakan serta teriakan itu terdengar sampai keluar rumah yang pastinya didengar pula oleh tetangga sebelah. Ketika aku berjalan keluar dari pekarangan rumah dapat kulihat ibu-ibu yang sedang berkumpul menggunjing, sambil melirik sinis kearah rumahku. Sehingga aku sengaja berdiri lama di sana, karena terlalu malu untuk melewati kerumunan tersebut.
“Keluarga Ibu Saripah tidak pernah hidup tentram ya, setiap hari bertengkar terus-terusan” Dapat kudengar samar ucapan mereka.
“Makanya bu, sering-sering bersyukur saja hidup kita pasti tentram” Lagi seseorang menyahut lalu disambut tawa oleh yang lain.
“Biasanya anak
dari keluarga berantakan seperti anak nakal loh, bu. Anak saya nggak saya
biarkan berteman sama anaknya Bu Saripah, takut nanti anak saya ketularan kasar
dan suka bentak-bentak” Selalu styrotipe seperti ini yang digunakan menilai
seseorang, mereka menggunakan kata “Biasanya” untuk menghakimi orang lain.
“Paling anaknya curang bu, ngertilah orang tuanya pasti nggak pernah ngajarin hal-hal baik keanaknya, dan anaknya itu pasti cuma mencari perhatian. Mana ada anak dari keluarga berantakan bisa pinter, pasti itu hasil nyontek” Hakimilah sesuka kalian, asalkan kalian bahagia.
Dengan hari tebakar emosi aku berjalan melewati mereka, saat aku mendekat dapat aku rasakan pandanag merendahkan bercampur jijik dari mereka menyapu tubuhku. Aku memberi mereka punggung dingin dan berlalu bergitu saja.
“Lihat, anak itu tidak punya sopan santun” Desis salah satu dari mereka yang samar-samar mesasuki gendang telingaku, segera ku percerpat langkahku menuju sekolah yang jaraknya tak bisa dibilang deat dari rumahku.
"Sandhaya...!!!" Sesaat setelah memasuki
gerbang sekolah, seseorang berlari sambil memanggil namaku, coba ku abaikan dan
terus berjalan. Hingga ia menabrak punggungku. Aku mengatur ekspresi wajahku
memikirkan topeng mana yang akan aku pakai hari ini, atau filter apa yang akan
aku gunakan.
"Ish...ganggu sumpah. Sana-sana" Ucapku
dengan ceria sambil memasang ekspresi bahagia dan geli yang dibuat-buat. Segera
kupercepat langkahku menuju kelas. Belum juga menapakkan kaki di teras kelas
salah seorang temanku sudah menghampiriku.
"San, tugas MTK sudah belum? Ajarin please yang
soal nomor tiga yang sifat limit fungsi pembagian." Pintanya memelas.
Ku letakkan tasku di bangku "Sini"
Dia datang membawa bukunya kearahku lalu aku
melanjutkan "Kalau yang pembagian kayak gini bisa di faktorkan atau
disubstitusikan, kalau subtitusi kamu tinggal masukan limit x-nya kedalam x,
kalau pemfaktoran kamu tinggal faktorkan saja penyebutnya."
Keningnya terlihat mengkerut bingung, aku
memperhatikannya lamat-lamat. Tiba-tiba dia mendongakkan kepalanya sambil
tersenyum menunjukan giginya yang gingsul dengan tidak bersalahnya. "Aku
nggak paham San, kan aku bodoh." Jawabnya dengan senyuman yang sok polos.
Dalam hati aku tertawa sinis, aku paling benci orang seperti dia.
"Nih" kujulurkan buku matematikaku ke
arahnya, dia memekik bahagia dan langsung pergi ke bangkunya.
Yang orang lain tau tentang aku adalah aku yang
bahagia, aku yang ceria, aku yang cerdas dan aku yang bersinar. Mereka tak
pernah tau seberapa hancur aku di dalam tapi lagi-lagi manusia itu hidup
sendiri mereka bersosialisasi karena mereka membutuhkan, makanya dalam kamus ku
tidak ada yang namanya "datang pas ada maunya", karena setiap manusia
memang memiliki keperluan atau kepentingan masing-masing.
"Huft, aku lelah" desahku dalam hati, aku
menutup mata mencoba mengenyahkan segala pemikiran buruk yang bersarang di
sana, tapi aku gagal, pikiran-pikiran itu menggerogoti ku satu persatu.
Selama jam pelajaran aku tidak fokus dan telingaku
terus menerus berdengung, kepalaku pusing dan tersa berat, akhirnya aku
memutuskan untuk pergi ke ruang BK, sekedar untuk mencurahkan perasaan ku.
Ketika aku memasuki ruang BK kulihat salah seorang
guruku tengah tertidur pulas menelungkup di meja, jadi ku ketuk pintu beberapa
kali untuk membangunkannya. Karena terganggu beliau mengangkat wajahnya dengan
ekspresi yang tak terbaca, keningnya sedikit mengkerut, dan matanya menyipit
kearahku.
"Bu, saya ingin bercerita" Ungkapku dengan
suara pelan.
"Iya, silahkan duduk, tunggu sebentar biarkan
ibu minum" Setelah dipersilahkan barulah aku melangkah masuk ke dalam
ruangan dan duduk di hadapannya.
"Silahkan bercerita" Persilahnya padaku
Aku sedikit menegang dan dan membatu, aku mencoba
menggali menemukan kepercayaan diriku untuk mulia bercerita. Aku seolah
tenggelam dalam pikiranku sendiri, aku bahakan tak menyadari apa yang aku
ucapkan, semuanya seolah mengalir begitu saja.
"Jadi Bu, Setiap malam saya berbaring terjaga
dan dari bawah pertempuran dimulai lagi. Apakah mereka lupa alasannya? Kenapa
anak kecil ini lahir? Karena jika mereka terus berjuang meraka akan
menghancurkan keluarga ini. Dan cobalah
yang terbaik untuk menyimpan rumah yang
rusak ini. Berhenti berkelahi, berhenti sakiti, coba cintai lagi . Jika mereka
pernah memegangnya erat-erat. Biarkan mereka merasakan cinta yang membuat
mereka tersenyum lagi. Lengan saya hitam dan biru, dan ada memar di kaki saya, semua
saling berjuang dan ini melelahkan" Pandangan mataku kosong menerawang
jauh ke angkasa, semuanya terasa meuluncur begitu saja dari mulutku.
Beliau memandangku lamat-lamat seolah meresapi apa
yag aku ceritakan. Atau mungkin beliau terlalu menyesal karena tak begitu
mengenal siswanya? Atau beliau merasa terganggu dengan ceritaku? Atau kah
beliau sebenarnya merasa kisahku sesungguhnya tak memiliki esensi? Aku sangat
kalut dan bingung, tanpa bisa ditahan air mataku merekah dari mataku yang
memerah.
"Sudah jangan menangis lagi, semuanya pasti
akan membaik, kamu tidak malu menangis padahal kamu anak laki-laki" Beliau
menyodorkan tisu dan segelas air mineral. Aku sudah mendengar kata-kata yang
sama puluhan kali, kata-kata bahawa semua akan membai, semua akan indah pada
waktunya, dan sebagainya, hal yang aku tunggu tapi semunya tak pernah datang.
Aku mulai
bertanya pada eksistensiku di dunia, jika memang semuanya akan membaik, apakah
penantian ku seumur hidupku ini tak masuk dalam hitungan? Apakah aku harus selalu
terlihat kuat dan tak boleh menangis sekali pun semuanya benar-benar berat?
Setelah aku menenangkan diriku sendiri aku melanjutkan untuk bercerita.
Setidaknya mungkin itu sedikit mengangkat beban ku.
"Mereka akan berteriak, mereka berkelahi
habis-habisan. Saya hanya bisa berharap, saya hanya akan berdoa, sekarang saya
menunggu berpegang pada mimpi. Sementara saya melihat tembok-tembok itu runtuh.
Kata-kata tajam seperti pisau, menebasnya. Kaca yang hancur seperti masa lalu,
sekarang menjadi kenangan. Ibu, ayah kapan ini berakhir? Di mana mereka
kehilangan kebahagiaan mereka? Saya di sini sendirian di dalam rumah yang
hancur ini. Siapa yang benar, siapa yang salah, siapa yang perduli?" Di
akhir kalimatku tercekat, emosi menguasai diriku sebelum akhirnya terpotong
oleh suara gawai guruku yang bergetar.
Getar gawai di meja menarik fokusnya, dia terlihat
meresapi setiap hal yang aku ungkapkan, ceritakan dan gambarkan. Entah itu
benar atau hanya khayalanku semata. Tapi bukankah semuanya sudah terlambat, aku
sudah tak bisa kembali seperti semula, semuanya sudah rusak, hancur
berkeping-keping.
"Sebentar ya, Ibu angkat telpon dulu. Kamu di
sini saja jangan kemana-mana." Aku membalasnya dengan anggukan, melihat
hal itu dia segera keluar dari ruangan meninggalkan aku sendirian. Dapat
kudengar samar-samar bahwa sang penelepon ternyata adalah Kepala Sekolah yang
memintanya untuk datang kekantor Kepala sekolah.
Aku melihat ke sekeliling dan menyadari bahwa aku
kembali sendirian, selalu seperti ini aku akan ditinggalkan di saat aku paling
membutuhkan uluran tangan.
Aku Sandhaya, aku menderita anxiety disorder
dan self harm aku juga menderita depresi dan beberapa penyakit mental
yang membuatku takut berhadapan dengan orang lain terpikir olehku untuk bunuh diri agar semua
ini berakhir. Pertengkaran setiap hari di rumah, masalah ekonomi, hinaan dan
cacian dari orang-orang yang bahkan tak tau apa-apa. Aku lelah setiap hari
harus memasang topeng dan menggunakan filter dalam kehidupan ku agar orang lain
tau aku bahagia dan tidak hancur. Setiap malam aku menangis tapi aku bahkan tak
tau apa yang aku tangisi, karena hatiku terasa mati rasa aku tak bisa merasakan
getaran emosi kecuali marah dan kecewa.
"Kamu itu beban" Kata kakakku. Aku sadar
aku adalah beban tapi haruskah dikatakan seperti itu?
"Kamu itu anak yang nggak diharapkan ibu nggak
pengen punya kamu, eh sayangnya malah ada kamu" Ibu berucap dengan nada
bercanda tapi itu menyakiti hatiku.
Selama bertahun-tahun aku berjuang memperbaiki
kondisi mental ku yang hancur, seorang diri dan hanya berteman sepi. Tanpa ada
yang tau, ledakan dan teriakan setiap hari di rumah kian menjadi-jadi.
"Jika memang kamu ingin menikah lagi, maka
menikahlah kamu bukan tanggung jawab saya lagi." Begitu isi pesan yang
ayahku kirimkan pada ibu yang menciptakan neraka baru, ibuku mulai suka
memukuliku. Aku tau mungkin beliau hanya sedikit tertekan dan perlu pelampiasan
tapi bukankah aku juga berhak merasa tertekan?
Kalian mungkin berpikir aku terlalu lemah , bunuh
diri hanya karena hal sepele seperti ini. Tapi taukah kalian berapa kali aku
mengurungkan niat untuk bunuh diri? Berapa kali aku mencoba yang terbaik untuk
bertahan? Lagipula tidak seorang pun yang peduli, setiap aku bercerita kalian
hanya akan berkata "Yang sabar ya.", "Kamu itukan laki-laki,
masa begitu saja nggak bisa.", "Semua akan indah pada waktunya."
Lalu kalian akan mencibir, menggunjing dan mencaci dibelakang, seolah aku
adalah hewan sirkus yang pantas dikasihani atau ditertawakan.
"Aku benar-benar lelah, jika aku mati karena
bunuh diri kemungkinan besar aku akan
menjadi bahan bakar neraka." Aku bermonolog dan ku akhiri dengan tawa
singkat, ku pandangi telapak meja putih di depanku, disudut ruangan ada
tali-temali berwarna putih yang biasa digunakan anak Pramuka, jantung ku mulai
bedegup kencang batinku seolah berbisik.
"Setidaknya jika aku mati aku hanya akan
disiksa secara fisik bukan batin" Dan keputusan ini akan membalik
kehidupanku.
Mungkin kepentingan guruku telah selesai jadi beliau
kembali keruangannya, dari jarak jauh mungkin ia telah melihat kain putih
berkibar jadi ku dengar sayup-sayup langkah kakinya semakin berderap cepat.
Dengan pandangan yang memburam di balik kain putih
yang membungkus diriku, aku melihat guruku tercekat, seolah waktu berhenti
berdetak, dia diam membeku melihat aku yang berubah menjadi Teru teru bōzu. Pasokan udara yang masuk
ke tubuhku semakin menipis kesadaranku mulai menghilang. Tubuhku sedikit
mengejang, dan...
Trak
Dapat kurasakan bahwa leherku telah patah oleh tali
yang menjeratnya.
'Ini adalah akhir dari perjuanganku, hidup adalah
perjuangan setiap orang hidup pasti berjuang' aku merapalkan itu dalam hati dan
akhirnya jiwaku tertarik dan menghilang.
Dalam setiap perjuangan tak semuanya akan berbuah
bahagia, dalam setiap usaha tak semuanya akan berhasil. Banyak orang yang akan
mencaci maki orang yang gagal, menganggap lemah mereka yang menyerah, tapi
apakah mereka yang menilai orang seenaknya itu tahu berapa kali orang tersebut
mencoba bertahan, mencoba untuk kembali berjuang, mencoba untuk kembali
bangkit.
Kisah perjuangan dari banyak orang yang mengalami
depresi, anxiety dan berbagai macam kesehatan mental lainnya,
orang-orang itu mencoba bertahan, orang-orang itu menghabiskan hari-harinya
dengan berjuang tapi kebanyakan pada akhirnya gagal, karena orang lain tak
menginginkan mereka untuk bertahan bukannya memberikan pertolongan banyak dari
kita yang malah melakukan perundungan. Yang semakin memojokan dan menjatuhkan
keyakinan mereka untuk terus berjuang.
Penyakit mental adalah hal yang tabu untuk
dibicarakan di tengah masyarakat, tapi jika kita mau sedikit saja membuka mata
dan melihat kesekitar, mau sedikit saja terbuka dengan keadaan orang lain, kita
bisa membantu banyak orang yang kini tengah berjuang, tidak dengan harta atau
barang berharga cukup dengan perduli pada mereka dan membuat mereka merasa
berarti.
Manusia
hanyalah mikrokosmos, satu kematian tak akan berpengaruh pada perputaran
dunia. Waktu akan terus berlanjut dan bumi tetap akan berputar tapi setiap
kelahiran mempunyai eksistensinya sendiri, mengetahui bagaimana ia harus
mencatatkan namanya di bintang-bintang bukan agar ia dikenang tapi agar ia
dapat membuat orang lain tersenyum. Dan setiap nyawa adalah hal yang berharga
dan patut dijaga.
Bukalah mata dan lebih perduli terhadap apa yang
terjadi di sekitar kita. Karena mungkin saja orang yang paling baik dan banyak
terenyum atau tertawa ternyata adalah orang yang paling banyak memendam luka. Atau
mereka yang terlihat dingin hanyalah orang lemah yang berusaha kuat.
Ingat kalian tidak pernah sendiri, akan selalu ada dan peduli terhadap jiwa-jiwa rapuh.
Kesehatan Mental Bukan Untuk Bergaya!!!
Komentar
Posting Komentar